Ayahku Sering Sakit Palsu Ternyata Ada Rahasia Mengerikan

Oleh VOXBLICK

Jumat, 21 November 2025 - 02.10 WIB
Ayahku Sering Sakit Palsu Ternyata Ada Rahasia Mengerikan
Rahasia gelap ayahku (Foto oleh Hubert Nowik)
<>

VOXBLICK.COM - Aku selalu mengira hidupku berjalan seperti keluarga kecil lainnya. Rumah sederhana di pinggir kota, suara jangkrik di malam hari, dan ayah yang, entah kenapa, lebih sering terbaring di kamar daripada bekerja. Ibuku bilang, ayahku “sering masuk angin”, kadang “maag kambuh”, kadang juga “kepalanya berat”. Tapi semakin aku tumbuh, semakin sering pula aku menemukan keanehan di balik dinding kamar ayah yang gelap dan dingin itu.

Tanda-Tanda yang Tak Pernah Kupahami

Pertama kali aku benar-benar curiga adalah saat umurku sembilan tahun. Malam itu, aku terbangun karena suara ayah memanggil pelan. Suaranya serak, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat. Ia memintaku tinggal di kamar, menemaninya.

Aku menuruti, meski mataku mengantuk berat. Tapi setiap kali aku hendak keluar kamar, ia menarikku kembali dengan tangan yang kurasa dingin, lebih dingin dari biasanya.

Ayahku Sering Sakit Palsu Ternyata Ada Rahasia Mengerikan
Ayahku Sering Sakit Palsu Ternyata Ada Rahasia Mengerikan (Foto oleh Jeswin Thomas)

Waktu berlalu, kebiasaan itu justru semakin sering. Setiap aku ingin pergi bermain, ayah selalu tampak mendadak lemah. Kadang ia memegang kepalanya, kadang memegangi perutnya.

Aku mulai bertanya-tanya, apakah ayahku benar-benar sakit, atau hanya ingin aku selalu ada di rumah?

Rahasia di Balik Pintu Terkunci

Suatu sore, hujan deras mengguyur atap rumah kami. Ibuku belum pulang, dan ayah, seperti biasa, memintaku menemaninya di kamar. Tapi kali ini, ponselnya berdering terus-menerus.

Ia tampak gelisah, menatapku dengan mata merah, lalu menyuruhku keluar dengan suara gemetar. “Jangan masuk kamar ini, apa pun yang terjadi,” katanya. Tapi larangan itu justru membuatku penasaran.

Setelah beberapa saat, aku mendekati pintu kamar ayah yang terkunci. Dari celah pintu, samar-samar terdengar suara bisikanbukan suara ayah, tapi seperti suara orang lain, serak dan berat. Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Sesuatu yang dingin merayap di sepanjang punggungku.

Aku Melihat Sesuatu yang Tak Seharusnya

Ketika akhirnya aku memberanikan diri mengintip, cahaya remang dari lampu kamar membuat bayangan aneh menari di dinding. Ayahku duduk di tepi ranjang, membelakangiku.

Di depannya, di lantai, ada lingkaran garam dan beberapa benda yang tak kukenaliboneka kecil dari kain lusuh, sebotol air, dan secarik kertas bertuliskan aksara yang asing bagiku.

  • Ayahku berbisik, seolah berbicara pada seseorang yang tak kasat mata.
  • Boneka kain itu bergerak pelan, seperti dihembus angin padahal semua jendela tertutup rapat.
  • Bayangan hitam menempel di punggung ayahku, samar, tapi jelas bukan miliknya sendiri.

Jantungku berdegup kencang. Aku mundur perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Tapi lantai kayu berderit di bawah kakiku. Tiba-tiba ayah menolehmatanya kosong, wajahnya seputih kapur.

“Sudah kubilang jangan masuk…” bisiknya pelan, tapi seolah-olah ada dua suara yang keluar bersamaansuara ayah dan suara lain yang lebih berat, lebih dingin.

Rahasia Mengerikan Itu Terbongkar

Sejak malam itu, aku sering mendengar suara-suara aneh dari kamar ayah. Bisikan, tangisan tertahan, bahkan suara tertawa yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

Setiap pagi, ayahku selalu tampak lelah, tapi anehnya, ia selalu menatapku dengan pandangan anehseolah-olah aku bukan lagi anaknya, tapi sesuatu yang lain.

Ibuku pun makin sering pulang larut. Suatu malam, saat aku terbangun, kulihat ibuku berdiri di depan kamar ayah. Ia berbisik lirih, “Maafkan ayahmu…” lalu berlalu seolah tak ingin aku mendengar lebih banyak.

Setiap hari, ayahku semakin sering berpura-pura sakit, memintaku tetap di rumah. Tapi kini aku tahu, itu bukan karena ia takut sendirian. Ia takut sesuatu dalam dirinya keluar jika aku tak ada.

Atau… mungkin ia takut aku akhirnya tahu siapaor apayang sebenarnya ada di balik tubuh ayahku.

Malam Terakhir yang Tak Pernah Kulupakan

Malam itu, untuk pertama kalinya aku menolak permintaan ayah. Aku meninggalkan kamar, menutup telinga dari suara panggilannya. Tapi saat aku kembali pagi harinya, kamar ayah terkunci, dan tak ada jawaban dari dalam.

Ibuku hanya berdiri di depan pintu, menangis tanpa suara.

Kunci kamar ayah hilang. Jendela tertutup rapat. Namun, setiap malam, aku masih mendengar suara itubisikan serak, tawa pelan, dan suara ayah memanggil namaku. Sampai hari ini, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu terkunci itu.

Dan kadang, saat malam sunyi, aku masih melihat bayangan seseorang berdiri di sudut kamarku, mengawasiku dari kegelapan. Apakah itu ayahku… atau sesuatu yang lain?

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0