Benih Misterius dari Pasar Tani Mengubah Kota Menjadi Gila

Oleh VOXBLICK

Jumat, 21 November 2025 - 01.20 WIB
Benih Misterius dari Pasar Tani Mengubah Kota Menjadi Gila
Benih misterius pasar tani (Foto oleh Kampus Production)

VOXBLICK.COM - Langit kota selalu tampak kelabu sejak malam itu. Angin membawa bisik-bisik aneh di antara lorong pasar tua, seperti suara-suara yang menolak tidur. Aku masih ingat jelas bagaimana semuanya bermulahari Sabtu yang biasa, saat istriku tersenyum membawa pulang sebungkus benih dari lapak seorang pedagang asing di pasar tani. Siapa sangka, benih kecil itu akan menumbuhkan kegilaan yang perlahan melahap kotaku.

Awal Segalanya: Benih dari Lapak yang Tak Pernah Ada

Aku sempat bertanya pada istriku, “Kenapa kau beli benih itu? Bukankah kita sudah punya cukup tanaman?” Dia hanya tertawa, memamerkan bungkusan kertas lusuh tanpa labeltak tertulis nama, tak ada gambar, hanya wangi tanah yang menyengat.

“Penjualnya bilang, ini bunga paling langka. Katanya, bisa membawa keajaiban,” katanya, sambil menuang butir-butir hitam ke telapak tangannya. Tapi aku tidak ingat pernah melihat lapak itu sebelumnya.

Aku sendiri sering ke pasar, namun tak pernah bertemu lelaki berwajah seperti bayangan, matanya kosong, suaranya seperti bergaung dari dasar sumur.

Benih Misterius dari Pasar Tani Mengubah Kota Menjadi Gila
Benih Misterius dari Pasar Tani Mengubah Kota Menjadi Gila (Foto oleh David Kouakou)

Perubahan Aneh yang Menyusup Perlahan

Saat benih itu mulai tumbuh di halaman, aku mulai merasa sesuatu berubah. Daunnya hijau tua, hampir kehitaman, dan setiap malam, seolah berbisik di antara desir angin. Tetangga-tetangga kami pun mulai bertingkah aneh.

Pak Dartoyang biasanya ramahmendadak berdiri di pagar menatap halaman kami hingga tengah malam. Ibu Sari, tetangga sebelah, mulai berbicara sendiri sambil menabur garam di sekeliling rumahnya.

  • Bunga itu tumbuh terlalu cepat. Dalam seminggu, batangnya sudah setinggi pinggang.
  • Aroma manis bercampur busuk merayap dari kelopaknya tiap malam.
  • Setiap pagi, kami menemukan burung-burung mati di sekitar pot bunga itu.

Namun yang paling menakutkan, adalah suara-suara. Kadang terdengar seperti isakan anak kecil, kadang seperti raungan hewan lapar. Suara itu merayap dari halaman, merasuk ke dalam mimpiku.

Kota yang Kian Gila

Satu per satu, orang-orang di kota mulai berubah. Ada yang hilang ingatan, ada yang mendadak tertawa histeris di jalan. Polisi datang, tapi mereka hanya mondar-mandir, seolah lupa tugas mereka sendiri.

Aku menyaksikan sendiri, malam-malam tanpa bulan, tetanggaku menari di tengah jalan, telanjang, memuja sesuatu yang tak kasat mata.

Di pasar, lapak-lapak berjatuhan ditinggalkan pemiliknya. Hanya lapak benih itu yang tetap berdiri, meski tak pernah terlihat siapa penjaganya.

Beberapa warga yang penasaran dan membeli benih serupa, kini rumahnya dipenuhi bunga gelap yang menyesakkan udara dengan aroma anyir dan rasa takut.

Dialog dalam Kegelapan

Suatu malam, aku menemukan istriku berdiri di halaman, matanya kosong menatap bunga. “Mereka memanggilku,” bisiknya, “mereka ingin aku ikut menari.” Aku menggenggam bahunya, namun tubuhnya dingin, hampir kaku.

“Siapa mereka?” tanyaku dengan suara gemetar.

Dia tersenyum, senyum yang bukan miliknya. “Yang menanam benih. Yang menunggu di bawah tanah.”

Ketika Tak Ada Jalan Kembali

Setiap rumah kini dihiasi bunga hitam, dan malam-malam kota penuh dengan suara tangis serta tawa yang nyaring. Aku mencoba membuang pot bunga itu, tapi akarnya sudah menembus tanah, membelit fondasi rumah.

Kota ini telah berubahatau mungkin, kota ini telah menjadi benih bagi sesuatu yang lebih gelap.

Pagi ini, saat membuka pintu, aku melihat jalanan penuh orang-orang menari. Di tengah mereka, istriku memimpin, matanya memancarkan cahaya aneh. Mereka memandangku, seolah menunggu aku bergabung.

Di langit, awan menggulung, membentuk wajah yang samarwajah sang penjual benih, tersenyum puas.

Dan di telapak tanganku, entah sejak kapan, ada satu biji hitam yang tak bisa kulepaskan. Aku merasa, malam ini, aku akan ikut menari bersama mereka.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0