Jangan Kunjungi Minnesota: Para Jiwa Lapar Itu Masih Ada
VOXBLICK.COM - Udara dingin menusuk tulang, bahkan di tengah musim panas yang seharusnya hangat. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi, seolah-olah alam sendiri berusaha menyembunyikan sesuatu. Aku selalu menganggap diriku seorang yang rasional, seseorang yang percaya pada bukti, bukan bisikan-bisikan angin atau cerita-cerita lama yang diselimuti debu. Namun, undangan untuk menelusuri sebuah fasilitas terbengkalai jauh di jantung hutan Minnesota, sebuah tempat yang konon menjadi saksi bisu sebuah “eksperimen kelam,” berhasil mengusik rasa ingin tahuku.
Peringatan-peringatan itu datang dari berbagai sumber, mulai dari penduduk lokal dengan mata penuh ketakutan hingga artikel-artikel usang di forum-forum daring yang membahas anomali.
“Jangan kunjungi Minnesota,” kata mereka, “Para jiwa lapar itu masih ada.” Aku menertawakannya, tentu saja. Jiwa lapar? Kedengarannya seperti dongeng pengantar tidur yang buruk. Tapi semakin aku mendekat, semakin berat atmosfer di sekitar, seolah-olah setiap langkah menyeretku lebih dalam ke dalam kegelapan yang tak terucap.
Jalan setapak yang dulunya beraspal kini retak dan ditumbuhi semak belukar. Lumut hijau tebal menutupi sisa-sisa tanda yang mungkin pernah menunjukkan arah.
Ketika gedung itu akhirnya terlihat dari balik rimbunnya pepohonan, sebuah gumpalan beton dan baja yang compang-camping, aku merasakan dingin yang berbeda&mdashdingin yang bukan berasal dari suhu, melainkan dari ketiadaan kehidupan. Jendela-jendela yang pecah menatapku seperti mata kosong, mengundangku masuk ke dalam perut raksasa yang sudah lama mati.
Bisikan di Balik Dinding Usang
Pintu utama berkarat dan engselnya menjerit protes saat aku mendorongnya terbuka. Debu tebal menyambutku, menari-nari di sela-sela cahaya matahari yang menyelinap dari celah-celah atap yang runtuh.
Aroma apek, lembap, dan sesuatu yang lain&mdashsesuatu yang manis namun memuakkan, seperti daging yang membusuk&mdashmenusuk hidungku. Aku mengeluarkan senter, sinarnya menari di sepanjang koridor panjang yang gelap, menampakkan sisa-sisa peralatan yang tidak bisa kukenali, meja-meja yang terbalik, dan lemari-lemari arsip yang isinya berserakan di lantai.
Ini adalah tempat di mana desas-desus tentang “eksperimen kelam” itu berakar. Sebuah proyek rahasia, konon, yang bertujuan mempelajari ketahanan manusia terhadap kelaparan ekstrem. Mereka membawa orang-orang&mdashyang tak punya siapa-siapa, yang terlupakan&mdashke tempat terpencil ini, lalu membiarkan mereka berjuang. Bukan untuk bertahan hidup, tapi untuk melihat seberapa jauh jiwa bisa bertahan saat tubuh mulai menyerah. Bisikan-bisikan yang kulewati di kota menyebutkan bahwa mereka tidak pernah pergi. Bahwa jiwa-jiwa lapar itu masih bergentayangan, mencari apa yang tak pernah mereka dapatkan: kenyang.
Aku berjalan pelan, langkah kakiku bergaung di keheningan yang menyesakkan. Setiap bayangan tampak bergerak, setiap embusan angin terdengar seperti desahan. Di sebuah ruangan yang lebih besar, mungkin dulunya sebuah aula makan atau ruang komunal, aku melihat coretan-coretan di dinding usang. Bukan grafiti biasa, melainkan kata-kata yang diukir dengan jari, mungkin dengan kuku, atau sesuatu yang lebih tajam. “LAPAR,” “DINGIN,” “TOLONG.” Dan satu kata yang terukir berkali-kali, seolah obsesi: “MAKAN.”
Sentuhan Dingin di Kegelapan
Tiba-tiba, sebuah suara. Bukan bisikan, bukan desahan, tapi seperti gesekan kain kasar di lantai, datang dari ujung koridor yang gelap gulita. Jantungku berdebar kencang.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya tikus, atau angin yang masuk dari jendela yang pecah. Namun, suara itu semakin jelas, semakin dekat. Ada sesuatu yang bergerak di sana, sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Senterku bergetar di tanganku. Aku mengarahkannya ke sumber suara, namun hanya kegelapan yang pekat. Aku melangkah mundur perlahan, setiap ototku tegang.
Aroma memuakkan itu semakin kuat, dan kali ini, ada nuansa lain&mdashbau tanah basah dan sesuatu yang busuk, seperti bangkai yang sudah lama tergeletak. Dingin yang tadi kurasakan kini berubah menjadi rasa beku yang menjalar dari telapak kakiku hingga ke ubun-ubun.
“Siapa di sana?” suaraku bergetar, lebih lemah dari yang kuharapkan. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang mencekam, dan kemudian, sebuah sentuhan. Sebuah sentuhan dingin, kurus, dan seperti tulang, menyentuh pergelangan kakiku.
Aku tersentak, menjauh dengan cepat, senterku jatuh dan berguling, sinarnya menyorot acak ke langit-langit, ke dinding, lalu berhenti pada sebuah sudut gelap.
Di sana, berdiri sebuah siluet. Tinggi, sangat kurus, dengan anggota tubuh yang tampak panjang dan tidak wajar. Kepalanya terkulai ke samping, dan dari kegelapan, dua titik merah menyala&mdashmatanya.
Bukan mata yang memancarkan kemarahan, tapi mata yang memancarkan kehampaan, rasa lapar yang tak terhingga. Aku bisa merasakan tatapannya, merasakan bahwa ia tidak melihatku sebagai ancaman, melainkan sebagai&mdashmakanan.
Mereka Masih Ada
Siluet itu bergerak. Perlahan, terseret-seret, mendekatiku. Kakinya tidak membuat suara, seolah-olah ia tidak memiliki berat. Aku bisa mendengar suara gemeretak halus, seperti tulang yang bergesekan, setiap kali ia melangkah.
Keringat dingin membasahi punggungku. Aku mencoba berteriak, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Ini bukan hantu yang ingin menakut-nakuti. Ini adalah sisa-sisa dari eksperimen keji, yang jiwanya terkunci dalam siksaan abadi, dan sekarang, setelah sekian lama, mereka akhirnya menemukan sesuatu untuk&mdashmemuaskan dahaga mereka.
Aku berbalik, berlari sekuat tenaga, tidak peduli ke mana. Hanya keluar, jauh dari hutan Minnesota ini, jauh dari gedung terkutuk ini. Aku mendengar suara langkah kaki yang terseret-seret di belakangku, semakin cepat, semakin dekat. Suara napas serak, atau mungkin itu hanya imajinasiku. Aku mencapai pintu utama, mendorongnya dengan seluruh kekuatanku, dan melesat keluar ke udara terbuka.
Namun, saat aku melangkah keluar, sesuatu mencengkeram pergelangan kakiku. Dingin, kaku, dan sangat kuat. Aku jatuh tersungkur, senterku terlempar dari genggamanku. Aku mencoba menendang, meronta, tapi cengkeraman itu tidak melepaskan.
Aku membalikkan badan, melihat ke belakangku, dan di ambang pintu, siluet kurus itu kini tampak lebih jelas. Wajahnya&mdashjika itu bisa disebut wajah&mdashadalah tengkorak yang meregang, kulitnya tipis seperti perkamen, dan mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan gigi-gigi kuning yang panjang dan tajam. Matanya yang merah menyala menatapku dengan intensitas yang mengerikan, dan dari dalam rongga mulutnya, aku mendengar sebuah bisikan yang berdesir, lebih jelas dari sebelumnya:
“Kenyang… ingin… kenyang…”
Cengkeraman itu semakin erat, menarikku kembali ke dalam kegelapan yang mengerikan, ke dalam pelukan abadi para jiwa lapar yang tak pernah pergi dari Minnesota. Dan aku tahu, saat itulah, bahwa aku tidak akan pernah bisa keluar. Aku akan menjadi salah satu dari mereka, selamanya mencari apa yang tak pernah kudapatkan.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0