Jangan Lewati Jembatan Tua Saat Malam di Kota Ini
VOXBLICK.COM - Angin malam berhembus tajam menerpa wajahku, membawa aroma tanah basah dan kayu lapuk yang begitu menusuk hidung. Malam di kota ini selalu terasa berbedaterutama jika kau berdiri di tepi jembatan tua yang membentang di atas sungai hitam pekat, di mana lampu-lampu jalan seakan enggan menyoroti sisi gelapnya. Aku tahu seharusnya tidak berjalan sendirian di sini, terlebih saat jarum jam sudah melewati tengah malam, tapi rasa penasaran telah lama menggerogoti keberanianku.
Langkahku pelan dan penuh kehati-hatian, menapaki papan-papan kayu yang sesekali berderit di bawah pijakan. Di kejauhan, bayangan jembatan tampak seperti mulut lebar yang siap menelan siapa saja yang nekat melintasinya.
Kota ini memang punya banyak cerita, tapi tak satu pun yang lebih mencekam daripada kisah tentang apa yang menunggu di balik gelapnya jembatan tua ini.
Bayangan di Balik Kabut
Kabut tipis mulai turun, menari di atas permukaan sungai dan membungkus jembatan dalam selimut samar. Aku merapatkan jaket, mencoba mengusir rasa dingin yang merambat dari ujung kaki hingga tengkuk.
Setiap kali aku berhenti, suara langkahku tetap terdengarseperti ada yang mengikuti, meniru ritme gerakanku dengan presisi menyeramkan.
Di sisi kanan, lampu jalan satu-satunya berkelap-kelip, seolah hendak padam. Aku menoleh ke belakang, berharap menemukan seorang pejalan malam lainnya. Kosong. Hanya suara air yang berbisik dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan.
Tapi entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang menatapku dari balik kabutsesuatu yang lebih tua dari jembatan itu sendiri.
Bisikan dari Kegelapan
Tiba-tiba, suara bisikan lirih menyusup di antara suara derit kayu. "Jangan menoleh..." katanya, begitu dekat di telingaku, hingga aku membeku.
Tapi siapa yang bisa menahan rasa ingin tahu? Perlahan, aku menoleh ke sisi kiri, menembus kabut yang semakin tebal. Di sana, di sela-sela papan jembatan, aku melihat sosok samarbayangan tubuh kurus tinggi dengan wajah yang tak memiliki mata, hanya dua lubang hitam menganga. Dia berdiri diam, seolah menungguku untuk bergerak lebih dekat.
- Suara napas berat terdengar dari arah bayangan itu, mengiringi dentuman jantungku yang kian liar.
- Papan kayu di bawahku bergetar pelan, seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang merayap dari bawah.
- Angin berhenti, dan dunia terasa sunyi. Hanya suara bisikan itu yang terus mengiang, kini lebih jelas, "Lewati aku, atau tetaplah di sini selamanya."
Langkah Terakhir di Jembatan Tua
Kakiku hampir tak mampu bergerak, tapi dorongan aneh membuatku melanjutkan langkah. Setiap meter terasa seperti menembus tirai kegelapan yang menebal. Sosok itu tak bergerak, tapi bayangannya seakan makin panjang, mengular ke arahku.
Aku berlariatau setidaknya mencobatapi jembatan seakan memanjang tak berujung. Nafasku tersengal, suara bisikan kini berubah menjadi jeritan yang melengking di dalam kepalaku.
Saat aku hampir mencapai ujung jembatan, lampu jalan tiba-tiba padam total. Gelap gulita. Aku terjatuh, lututku membentur papan kasar. Dalam kegelapan, aku merasakan sentuhan dingin di pergelangan tanganerat dan menahan.
Jeritan tertahan di tenggorokanku. Perlahan, aku menengadah, dan di situ, wajah tanpa mata itu menunduk begitu dekat. Mulutnya terbuka, mengeluarkan suara yang bukan milik manusia.
Bisikan yang Tak Pernah Hilang
Aku tak pernah ingat bagaimana akhirnya aku bisa berada di tepi sungai, tubuhku basah kuyup dan lutut berdarah. Orang-orang menemukanku pagi harinya, menggigil dan tak mampu berkata-kata.
Sejak malam itu, suara bisikan dari jembatan tua selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Mereka bilang itu hanya mimpi buruk, tapi setiap malam, dari balik jendela kamarku, aku masih melihat bayangan itu berdiri di tengah jembatan, menungguku untuk kembali.
Sampai hari ini, tak ada yang benar-benar tahu apa yang menunggu di balik gelapnya jembatan tua di kota ini. Tapi jika kau melewatinya saat malam, dan mendengar bisikan lirih memanggil namamujangan menoleh. Atau kau tak akan pernah pulang lagi.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0