Jangan Pernah Biarkan Santa Masuk Rumah di Malam Natal
VOXBLICK.COM - Angin malam Natal itu terasa menusuk tulang. Aku masih ingat, jendela-jendela berembun, lampu-lampu kecil berkedip di sepanjang lorong apartemen tua tempatku tinggal. Di luar, suara anak-anak tertawa, salju menari pelan di bawah cahaya lampu jalan. Namun, di dalam kamarku, suasana berbeda. Ada sesuatu yang mengintai di antara bayangan, sesuatu yang membuatku menahan napas setiap kali mendengar suara ketukan samar di kejauhan.
Beberapa jam sebelumnya, aku membaca sebuah utas aneh di forum gelap. Seseorang dengan nama pengguna SilentKlaus memperingatkan: “Jangan pernah biarkan Santa masuk rumah di malam Natal, apapun yang terjadi.
” Komentar-komentar di bawahnya dipenuhi lelucon, namun satu balasan membuat bulu kudukku berdiri: “Dia bukan yang kamu pikirkan. Jika kau mendengar suara lonceng di luar jendela, tutup tirai, kunci pintu, dan jangan menoleh ke belakang.”
Malam Natal yang Tak Biasa
Malam semakin larut. Aku mulai menertawakan ketakutanku sendiri. Siapa peduli dengan mitos urban legend soal Santa yang menyeramkan? Kupikir, semua itu hanya cerita untuk menakuti anak-anak agar tidur lebih awal.
Tapi tepat pukul dua belas, suara cling… cling… samar terdengar dari luar. Aku menegang. Lonceng. Seperti di utas itu.
Langkah kakiku terasa berat saat mendekati jendela. Dari balik tirai, kulihat seseorang berdiri di bawah pohon Natal kecil di halaman. Ia mengenakan jas merah dengan bulu putih, topi Santa menutupi matanya, dan membawa karung besar di punggungnya.
Tapi ada yang aneh. Tubuhnya terlalu jangkung, gerakannya terlalu kaku. Seolah-olah ia bukan manusia, melainkan sesuatu yang mencoba meniru manusia.
Ketukan di Pintu
Seketika, suara ketukan pelan terdengar dari pintu depan. Aku mundur, menahan napas. Ponselku bergetar dengan notifikasi baru dari forum tadi:
- “Jangan buka pintu. Apapun yang dia katakan, jangan percaya.”
- “Jangan pernah menatap matanya.”
- “Jika dia memanggil namamu, tutup telinga dan berdoa.”
Ketukan itu berubah menjadi hentakan. Suara berat dari balik pintu memanggil, “Nak, aku Santa. Aku datang membawakan hadiah.” Suaranya dalam, serak, dan terdengar seperti ada sesuatu yang bergerak di tenggorokannya.
Jantungku berdegup kencang, dan aku tahu, suara itu bukan suara Santa seperti di iklan atau film anak-anak.
Bayangan di Balik Tirai
Aku merangkak ke bawah meja makan, berusaha menahan isak. Lampu-lampu pohon Natal di sudut ruangan tiba-tiba padam satu per satu. Bayangan merah itu melintas di jendela. Aku menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Tiba-tiba, ponselku menyala sendiri, menampilkan pesan singkat dari nomor tak dikenal: “Sudah kubilang, jangan biarkan dia masuk.”
Di luar, suara garukan di jendela semakin keras. Aku mendengar bisikan, “Bukalah… aku tahu kau di dalam…” Suhu ruangan serasa menurun drastis. Sesuatu menekan gagang pintu, berusaha masuk.
Aku menahan napas, memeluk lutut, menunggu… menunggu suara itu hilang. Namun, suara berat itu justru semakin dekat, seolah-olah tembok di antara kami semakin tipis.
Hadiah Natal yang Tak Diinginkan
Keesokan paginya, aku terbangun di bawah meja. Semua tampak normal. Jendela tertutup, pohon Natal menyala, tidak ada tanda-tanda Santa atau siapapun yang datang. Namun, di depan pintu, aku menemukan sebuah kotak kecil berbalut kain merah lusuh.
Tidak ada nama pengirim, hanya selembar kertas bertuliskan, “Sampai jumpa tahun depan.”
Sejak malam itu, aku selalu mengunci semua pintu dan menutup tirai rapat-rapat setiap malam Natal. Di sudut mataku, kadang-kadang aku masih melihat bayangan merah melintas di jalan.
Apakah dia akan kembali? Atau mungkin, tahun ini giliranmu yang mendengar suara lonceng itu di luar jendela…
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0