Jangan Pernah Masuk ke Pub Flanagan Malam Hari

Oleh VOXBLICK

Rabu, 14 Januari 2026 - 01.30 WIB
Jangan Pernah Masuk ke Pub Flanagan Malam Hari
Pub Flanagan Menyeramkan (Foto oleh Ryutaro Tsukata)

VOXBLICK.COM - Langkah kakiku terasa berat saat menapaki trotoar yang basah oleh rintik gerimis malam. Di ujung jalan sempit itu, berdiri sebuah bangunan tua bercat hijau lumut yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Pub Flanagan. Nama itu jelas terpampang di papan kayu yang digantung miring, diterangi lampu temaram yang berpendar seperti kunang-kunang kelelahan. Tak ada suara, kecuali desiran angin dan dentingan samar dari dalam pub. Aku tahu, tidak seharusnya aku di sini. Tapi rasa penasaran lebih kuat dari rasa takut yang menggigilkan tulang.

Temanku, Raka, pernah berkata, "Jangan pernah masuk ke Pub Flanagan malam hari, apalagi sendirian." Suaranya waktu itu terdengar setengah bercanda, setengah bergetar.

Tapi malam ini, aku sendirian, dan hanya ada satu cara untuk membuktikan sendiriatau mungkin, menyesal selamanya.

Jangan Pernah Masuk ke Pub Flanagan Malam Hari
Jangan Pernah Masuk ke Pub Flanagan Malam Hari (Foto oleh Darius Krause)

Pintu yang Tidak Pernah Tertutup Sepenuhnya

Pintu kayu pub itu terbuka sedikit, seolah-olah mengundang siapa saja yang cukup nekat untuk melangkah masuk. Aroma alkohol tua dan asap rokok menyambutku dengan kasar.

Di dalam, lampu gantung kuning remang-remang berayun pelan, seperti diayun angin yang entah dari mana datangnya. Meja-meja kayu tua tersusun rapi, namun kosong. Hanya seorang pria tua duduk di pojok bar, membelakangi jendela yang mengembun. Ia menatap gelasnya, tak bergeming saat aku masuk.

Bar Flanagan bukan pub biasa. Kata warga sekitar, tempat ini berubah setelah tengah malamseolah-olah waktu di dalamnya berjalan lambat, dan suara tawa yang samar kadang terdengar, padahal tak ada siapa-siapa.

Aku menahan napas, melangkah ke bar, membiarkan kursi kayu berderit pelan di bawah tubuhku.

Suara-suara dari Masa Lalu

Bartender muncul entah dari mana, wajahnya pucat, matanya cekung seolah tak pernah tidur. Ia menggeser gelas ke arahku, tanpa berkata sepatah kata pun.

Saat aku hendak bertanya, suara tawa pelan terdengar dari sudut ruangan, di mana tak ada siapa-siapa. Aku menoleh, bulu kudukku meremang. Meja di sudut itu tampak sedikit bergerak, seolah ada yang duduk di sanabayangan samar, tak lebih dari kabut tipis, tapi jelas ada.

  • Gelas bir di depanku tiba-tiba berembun, padahal tak ada es.
  • Jam dinding bergerak mundur, detik demi detik, seolah waktu melawan arus.
  • Suara langkah kaki terdengar di lantai atas, padahal tidak ada tangga menuju ke sana.

Pria tua di pojok tiba-tiba menoleh, matanya kosong namun tajam menembusku. "Kau juga mendengarnya, ya?" bisiknya lirih. "Terlambat untuk pergi sekarang."

Bayangan di Balik Jendela

Angin malam bertiup kencang, membuat jendela bergetar. Aku bisa melihat pantulan wajahku di kacatapi di belakangku, ada sosok lain. Tinggi, berambut panjang, matanya merah menyala.

Aku membalikkan badan, tapi yang kulihat hanya bayangan yang cepat menghilang di antara meja-meja kosong. Suara bisikan mulai memenuhi ruangan, suara-suara yang tak kupahami, namun membuat telingaku berdengung.

Bartender menatapku lekat-lekat. "Jangan pernah menoleh ke belakang setelah mendengar nama sendiri di sini," katanya. Tapi aku sudah mendengarnya.

Suara lirih, persis di telingaku, memanggil namaku dengan nada serak yang tak pernah kudengar sebelumnya.

Malam yang Tak Pernah Selesai

Aku mencoba berdiri, tapi kaki terasa berat, seolah ditahan sesuatu dari bawah lantai. Jam dinding kini benar-benar berhenti berdetak. Pria tua di pojok berdiri, tubuhnya perlahan memudar menjadi kabut, lalu lenyap begitu saja.

Bartender menghilang di balik lorong gelap tanpa suara. Aku sendirian.

Di luar, suara sirene polisi meraung, namun jendela dan pintu tak bisa kubuka. Dari balik bar, sebuah tangan kurus mencengkeram gelas birku, menariknya ke bawah meja. Aku menjerit, namun tak ada suara yang keluar dari mulutku.

Hanya gema tawa, semakin keras, memenuhi seluruh pub Flanagan yang kini terasa jauh lebih kecil dan gelap.

Katanya, tak ada yang pernah keluar dari pub Flanagan setelah malam hari. Aku menulis ini di atas serbet tua, berharap seseorang membacanyaatau mungkin, hanya untuk memastikan aku masih nyata di dunia ini.

Tapi saat aku menoleh, aku melihat bayanganku sendiri tersenyum aneh di kaca bar. Di belakangku, suara langkah kaki kembali terdengar.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0