Kesalahan Tertawa di Pub Membawaku ke Teror Tak Berujung
VOXBLICK.COM - Gelak tawa kadang menjadi pelarian dari hari-hari yang berat. Tapi malam itu, tawa yang kulontarkan di sudut pub tua justru menjadi awal dari serangkaian teror yang tak pernah kubayangkan. Namaku Raka, dan aku tidak pernah menyangka, satu kesalahan kecil bisa mengundang sesuatu yang begitu gelap masuk ke hidupku.
Pertama kali aku menginjakkan kaki di pub tua itu, suasananya sudah terasa berbeda. Lampu-lampu temaram, aroma bir bercampur asap rokok, serta dinding bata yang penuh coretan nama pengunjung lama.
Aku duduk bersama tiga temanku, merayakan promosi kerja yang kuterima pagi tadi. Tawa kami pecah begitu keras saat salah satu dari kami, Dimas, menceritakan lelucon konyol yang hanya masuk akal bagi mereka yang sudah setengah mabuk.
Aku ingat jelas, tawa keras itu memecah keheningan sesaat. Semua mata menoleh ke arah kami. Tapi satu hal yang membuat bulu kudukku berdiriada seorang wanita tua di pojok ruangan, mengenakan gaun hitam lusuh, menatapku tanpa berkedip.
Matanya kosong, seperti menembus ke dalam dadaku. Sejenak, aku merasa bersalah, lalu menunduk dan mengalihkan pandangan. Aku pura-pura tak tahu, berusaha kembali larut dalam keramaian. Namun, malam itu, sesuatu telah berubah.
Telepon Tengah Malam
Malam itu aku pulang lebih awal, kepala pening dan tubuh lelah. Kurasakan udara dingin menusuk lebih tajam dari biasanya. Setibanya di kamar kos, aku langsung merebahkan diri, berharap mimpi indah menjemput.
Tapi pukul 01.13 dini hari, ponselku bergetar. Nomor tak dikenal. Awalnya kuabaikan, tapi getaran itu terus berulang, seolah menuntut untuk dijawab.
- Suara napas berat dari seberang, tanpa kata.
- Sekilas suara tawa parau, pelan, seperti menirukan tawa kami di pub tadi.
- Lalu hening, hanya suara detak jantungku yang semakin cepat.
Keringat dingin mengalir di pelipis. Aku menekan tombol merah, berharap semuanya selesai. Namun, pesan singkat masuk tak lama kemudian: “Jangan tertawa di tempatku.”
Bayangan di Setiap Sudut
Hari-hari berikutnya berubah menjadi mimpi buruk. Setiap malam, telepon dari nomor berbedakadang hanya suara napas, kadang tawa yang terdengar makin dekat.
Di kampus, aku sering menemukan sosok wanita bergaun hitam berdiri di ujung lorong, memandangku tanpa ekspresi.
Teman-teman menertawakanku saat kuceritakan kejadian aneh itu. Mereka bilang aku hanya terlalu mabuk atau terlalu sering begadang. Tapi teror itu nyata. Aku mulai kehilangan nafsu makan, tidur tak pernah nyenyak. Di kamar, aku merasa selalu diawasi.
Ponselku sering berdering tanpa nama, hanya suara bisikan, “Tertawa lagi, aku datang.”
Malam Terakhir di Pub
Putus asa, aku kembali ke pub tua itu, berharap bisa meminta maaf atau setidaknya mengakhiri semuanya. Ruangan tampak lebih suram dari biasanya. Pelayan tak mengenaliku, bahkan Dimas dan teman-teman tak ada di sana.
Hanya ada wanita tua itu, di pojok yang sama, gaun hitamnya kini tampak lebih compang-camping. Ia tersenyum, memperlihatkan deretan gigi kuning yang ganjil. Aku mendekat, suara di kepalaku berbisik, “Jangan tertawa.”
Namun, sesuatu dalam diriku tak bisa menahan gejolak. Ketika wanita itu memandangku, aku justru tertawa kecilentah gugup, entah takut. Tawa itu menggema di ruangan kosong. Dalam sekejap, lampu padam. Teleponku berdering.
Di layar, hanya tertulis: “Sekarang giliranmu.”
Hingga saat ini, aku tak pernah tahu apakah aku benar-benar kembali dari pub itu. Setiap malam, suara tawa parau itu menghantuiku lewat telepon, kadang dari cermin, kadang dari bayangan sendiri.
Dan setiap kali aku mencoba tertawa, suara itu semakin dekat. Anda masih berani tertawa di tempat asing?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0