Kisah Mencekam Perawat ICU Saat Gerhana Matahari
VOXBLICK.COM - Langit sore itu tak seperti biasanya. Matahari, yang biasanya menjadi tumpuan cahaya di balik jendela ICU, perlahan-lahan tertutup bayangan gelap. Aku, seorang perawat ICU di rumah sakit tua di pinggiran kota, sudah terbiasa menghadapi kematian di setiap sudut ruangan ini. Namun, hari itu, saat gerhana matahari mulai merayap, hawa dingin dan perasaan tak nyaman menggerogoti dari dalam. Seolah-olah sesuatu yang tak kasat mata ikut memasuki ruang ICU bersama bayang-bayang yang menari di dinding.
Jam dinding berdetak lambat. Pasien-pasien kami, kebanyakan dalam kondisi koma atau setengah sadar, tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda gelisah. Monitor detak jantung berbunyi nyaring, tak teratur, seperti ada irama yang dipaksakan dari dunia lain.
Aku mencoba menenangkan salah satu pasien, Pak Seno, yang mendadak membuka mata lebar-lebar meski selama seminggu ini ia tak pernah sadar. Tatapannya kosong, namun bibirnya bergerak, membisikkan kata-kata yang tak kupahami.
Detik-Detik Menegangkan di Balik Dinding ICU
Pada detik-detik gerhana mencapai puncaknya, seluruh ruangan seperti membeku. Lampu-lampu darurat yang biasanya terang meredup aneh, dan suasana berubah semakin mencekam. Aku melirik ke arah temanku, Rina, yang juga bertugas jaga malam itu.
Wajahnya pucat pasi, bola matanya terpaku ke satu sudut ruangan, tepat di dekat tirai pasien nomor empat.
“Kau lihat itu?” bisik Rina pelan, suaranya hampir habis. Aku mengikuti arah pandangannya. Di balik tirai putih yang tertutup, bayangan panjang bergerak pelan, seolah-olah ada seseorang berdiri di sana.
Namun, tak ada siapa-siapa yang seharusnya berada di sudut itu. Jantungku berdegup keras. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya ilusi cahaya akibat gerhana, tapi hawa aneh yang menusuk tulang membuatku yakin ada sesuatu yang lain.
Bisikan di Tengah Kegelapan
Suasana di ICU semakin menegangkan. Tak hanya satu, tapi hampir semua pasien mulai meracau, bahkan yang sebelumnya tak bisa bicara. Di antara suara mesin dan detak jantung, samar-samar terdengar bisikan-bisikan.
Kata-kata yang sama, diulang-ulang dari mulut-mulut yang berbeda:
- “Jangan biarkan dia masuk...”
- “Tutup pintu, tutup pintu...”
- “Dia datang bersama bayangan...”
Aku berusaha mengabaikan, tapi bisikan itu semakin keras, semakin jelas. Rina mulai menangis tertahan. Ia memegang tanganku erat, kuku-kukunya menusuk kulitku. “Aku ingin keluar dari sini. Ada yang aneh, aku merasa...
ada yang memperhatikan kita,” katanya dengan suara gemetar.
Pintu yang Tak Pernah Tertutup
Dalam kepanikan, aku berjalan ke arah pintu keluar ICU, berniat mencari dokter jaga. Namun, anehnya, pintu itu tak pernah benar-benar bisa kututup, selalu saja terbuka sedikit walau sudah kucoba berulang kali.
Dari celah kecil itu, aku melihat bayangan hitam yang tak berbentuk, seolah-olah menanti saat yang tepat untuk masuk. Bau anyir dan udara dingin menguar dari celah pintu. Lampu-lampu mulai berkedip, satu per satu padam, menyisakan kegelapan yang pekat.
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Mesin-mesin berhenti berdetak, detak jantung pasien satu per satu berubah menjadi garis lurus di monitor. Aku berteriak memanggil bantuan, tapi suaraku hilang ditelan gelap.
Hanya ada suara napas berat, bukan dari pasien, bukan dari Rina, tapi dari sesuatu yang tak terlihat di balik pintu itu.
Malam yang Tak Pernah Usai
Gerhana akhirnya berlalu, namun cahaya mentari tak kunjung menembus jendela ICU. Waktu terasa membeku jam dinding berhenti berdetak sejak beberapa menit lalu. Rina sudah tak ada di sampingkuentah ke mana.
Pasien-pasien semua sunyi, seolah-olah dunia di luar sudah berhenti berputar.
Sampai hari ini, aku masih terperangkap di ruangan itu, menulis kisah ini di atas secarik kertas yang kutemukan di laci meja perawat. Tak ada suara dari luar, hanya bisikan yang sama berulang:
- “Jangan biarkan dia masuk...”
Dan ketika aku menoleh ke pintu, kini pintu itu perlahan terbuka lebar... menampakkan bayangan gelap yang akhirnya berhasil masuk.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0