Kisah Mencekam Pertemuanku dengan Pria Kelaparan di Malam Gelap
VOXBLICK.COM - Udara malam terasa begitu pekat, seolah-olah kegelapan menghirup seluruh cahaya yang tersisa di ujung gang sempit itu. Aku berjalan sendirian, langkahku beradu dengan suara air menetes dari atap seng rumah-rumah tua. Setiap bayangan yang menari di dinding membuat dadaku sesak. Tak ada satu pun suara manusia hanya detak jantungku yang berlomba dengan rasa takut yang perlahan merayap naik ke tenggorokan.
Entah mengapa malam itu aku memilih jalan pintas yang sudah lama kutinggalkan. Jalanan itu dikenal sebagai tempat yang tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam inisemuanya berbeda.
Lampu jalan remang-remang, aroma sampah menusuk, dan angin membawa bisikan-bisikan aneh. Tanganku gemetar saat meraba saku jaket, memastikan ponsel masih ada, meski sinyal di tempat ini biasanya lenyap begitu saja.
Ketika Bayangan Menampakkan Wujudnya
Di tengah keheningan, aku mendengar sesuatulangkah kaki terputus-putus di belakangku. Aku berbalik, dan di ujung jalan yang gelap kulihat siluet seorang pria. Badannya kurus kering, baju lusuh menempel di tubuhnya seperti kulit kedua.
Matanya cekung, tatapannya kosong menembusku. Aku membeku, antara ingin berlari atau sekadar diam menunggu apa yang akan terjadi.
Pria itu perlahan mendekat. Setiap langkahnya disertai suara perutnya yang keroncongan, seolah-olah tubuhnya sudah lama tak disentuh makanan. Ia mengangkat tangan, meminta sesuatu. "Aku...
lapar," bisiknya, suara parau seperti berasal dari dasar sumur tua.
Dialog dalam Kegelapan
Aku mencoba meraih dompet, berharap ada sepotong roti atau uang kecil yang bisa kuberikan. Namun, pria itu terus mendekat, matanya menatapku dengan penuh harap sekaligus ancaman yang samar.
- Suaranya bergetar, "Tolong... hanya sedikit saja."
- Aku menelan ludah, "Maaf, aku tidak punya apa-apa malam ini."
- Dia semakin dekat, napasnya tercium bau busuk yang menusuk hidung.
Dalam beberapa detik, aku merasa waktu berhenti. Tangannya hampir menyentuh lenganku ketika tiba-tiba seluruh lampu jalan padam. Gelap total.
Aku hanya bisa mendengar napasnya yang berat, dan suara perutnya yang meraunglebih menyerupai erangan binatang lapar daripada manusia.
Misteri yang Tak Pernah Terjawab
Ketika lampu menyala kembali beberapa detik kemudian, pria itu sudah tak ada. Aku terpaku di tempat, dada berdebar keras, keringat dingin membasahi pelipis. Tak ada jejak, tak ada suara, hanya bekas bau busuk yang masih tertinggal di udara.
Aku menoleh ke sekeliling, berharap ini hanya khayalan, namun rasa dingin yang merambat di punggungku berkata lain.
Aku mempercepat langkah, meninggalkan gang itu secepat yang kubisa. Namun, sejak malam itu, aku selalu merasa ada yang mengikutikusebuah bayangan lapar yang tak pernah benar-benar pergi.
Setiap melewati jalanan gelap, suara perut keroncongan dan napas berat itu kembali terngiang di telingaku.
Kenangan yang Tak Bisa Dihapus
Ada beberapa hal yang hingga kini masih terus menghantui pikiranku:
- Bagaimana pria itu menghilang tanpa jejak, seolah-olah larut dalam kegelapan.
- Tatapan matanya yang kosong tapi penuh permohonan, dan suara lapar yang tak seperti manusia.
- Bau busuk yang selalu tercium setiap aku merasa takut sendirian di malam hari.
Mungkin malam itu aku hanya bertemu seorang pria kelaparan. Atau mungkin, aku telah bersinggungan dengan sesuatu yang lebih tua dan lebih lapar dari sekadar manusia.
Sampai hari ini, aku tak pernah berani lagi melewati gang itukarena siapa tahu, di balik kegelapan malam, pria kelaparan itu masih menunggu mangsa berikutnya.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0