Malam Mencekam di Kota Terlarang Bersama Pemadam Kebakaran

Oleh VOXBLICK

Jumat, 09 Januari 2026 - 01.45 WIB
Malam Mencekam di Kota Terlarang Bersama Pemadam Kebakaran
Pemadam Kebakaran di Kota Terlarang (Foto oleh Vijit Bagh)

VOXBLICK.COM - Langit malam itu tampak seolah menelan seluruh kota. Tidak ada bintang, bahkan bulan pun malu-malu bersembunyi di balik awan hitam pekat. Aku berdiri di depan markas pemadam kebakaran tua yang sudah lama tak terurus, ditemani hanya suara angin yang menampar jendela retak. Malam itu, akuseorang pemadam kebakaran yang sudah bertahun-tahun berjibaku dengan api dan mautmerasa ada sesuatu yang berbeda. Sebuah panggilan darurat masuk, suaranya parau dan terputus-putus, meminta pertolongan di sebuah sudut kota yang sudah lama dianggap terlarang oleh warga sekitar.

Tak ada pilihan lain, aku dan dua rekankuRian dan Pak Dartomenaiki mobil pemadam tua yang suara mesinnya meraung menembus kesunyian.

Jalanan menuju lokasi terasa asing, seolah setiap tikungan membawa kami lebih dekat ke dunia yang tak seharusnya kami masuki. Aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat, napasku memburu, dan bulu kudukku meremang tanpa alasan yang jelas.

Malam Mencekam di Kota Terlarang Bersama Pemadam Kebakaran
Malam Mencekam di Kota Terlarang Bersama Pemadam Kebakaran (Foto oleh Raul Hernandez)

Menuju Jantung Kota Terlarang

Asap tipis menari-nari di antara reruntuhan bangunan tua, membuat lampu mobil kami tampak sia-sia menembus kegelapan. Setibanya di sana, suasana begitu sunyi hingga deru napas sendiri terdengar menakutkan.

Rumah yang terbakar itu berdiri sendiri di tengah lapangan, dikelilingi pohon-pohon tua yang batangnya dipenuhi lumut hijau kehitaman.

Pintu kayu rumah itu terbuka sedikit, dan dari celahnya keluar suara tangisan lirih. Rian menatapku, matanya penuh keraguan. Tapi tugas tetaplah tugas. Kami masuk, menahan napas karena aroma daging terbakar yang menusuk hidung.

Api menjilat dinding, tapi anehnya, tidak ada panas sama sekali. Aku mengangkat selang pemadam, namun air yang keluar berubah menjadi darah pekat yang menetes perlahan ke lantai kayu yang lapuk.

Teror Tanpa Wajah

Di ruang tengah, kami menemukan seorang wanita berambut panjang, duduk membelakangi kami. Tubuhnya bergetar, seolah menahan tangis. “Bu, kami di sini untuk menolong!” seru Pak Darto, suaranya bergetar.

Wanita itu tidak bergerak. Aku mendekat dengan hati-hati, tapi ketika aku hampir menyentuh pundaknya, ia perlahan menoleh. Wajahnya… tidak ada. Hanya kulit putih polos tanpa mata, hidung, atau mulut.

Jeritan Rian menggema di seluruh rumah, dan tiba-tiba api di sekeliling kami membesar tanpa sebab. Tapi anehnya, api itu tidak membakar apapun, hanya terus menari-nari, seolah mengajak kami bermain dalam lingkaran kegilaan.

  • Langkah kaki berat terdengar dari loteng, padahal rumah itu jelas-jelas kosong.
  • Bayangan hitam bergerak cepat di sudut-sudut ruangan, seolah mengintai setiap gerak kami.
  • Jam dinding berdetak mundur, menit demi menit, semakin cepat, semakin kencang.

Keringat dingin mengalir di pelipisku. Kami berusaha keluar, tapi setiap pintu yang kami buka selalu membawa kami kembali ke ruang tengah. Tak ada jalan keluar, hanya jeritan dan tawa yang menggema di setiap sudut rumah terkutuk itu.

Api yang Tak Pernah Padam

Ketika akhirnya kami berhasil menjebol jendela dan melompat keluar, kami terkejutrumah itu sudah tidak ada. Hanya lapangan kosong dan pohon-pohon tua yang berbisik. Mobil pemadam kebakaran kami pun lenyap entah ke mana.

Aku memeriksa saku, radio komunikasi yang tadi kupegang kini berubah menjadi segumpal rambut basah dan dingin.

Rian terduduk lemas, menatap hampa ke tanah. “Tadi… tadi aku melihat Ibu. Tapi bukan Ibu…” bisiknya. Pak Darto hanya diam, matanya kosong menatap kegelapan.

Di kejauhan, terdengar lagi suara sirinenamun kali ini, bukan dari mobil pemadam kebakaran, melainkan seperti seruan kematian yang menggema di seluruh kota. Kami berjalan tanpa arah, berharap bisa menemukan jalan pulang.

Tapi setiap lorong, setiap sudut kota, semuanya terasa sama: sunyi, dingin, dan dipenuhi bisikan yang tak pernah kami mengerti.

Sampai Malam Berikutnya

Malam mencekam di kota terlarang itu masih membekas dalam pikiranku. Sejak kejadian itu, tak ada yang percaya pada ceritaku. Markas pemadam kebakaran kini selalu tampak kosong setiap malam, seolah menunggu kami kembali.

Satu-satunya yang tersisa hanyalah bau asap di udara, dan suara tawa lirih yang kadang terdengar dari dalam radio tua di ruang komandoku.

Aku masih di sini, duduk sendiri di tengah malam. Menunggu panggilan darurat berikutnyaatau mungkin, hanya menunggu giliran menjadi bagian dari kota yang tak pernah benar-benar tidur.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0