Mimpi Berulang yang Menghantui Aku Selama Berminggu-minggu
VOXBLICK.COM - Selama berminggu-minggu terakhir, aku seperti terjebak dalam sebuah lingkaran waktu yang menghantui. Setiap malam, tanpa pengecualian, aku terbangun dengan napas tersengal dan dada yang basah oleh keringat dingin. Bukan karena suara dari luar, bukan pula karena suara-suara di kepalaku. Tapi karena mimpi yang samamimpi berulang yang seolah ingin menyampaikan pesan mengerikan yang belum bisa kuterjemahkan.
Pada awalnya, aku mengira itu hanya mimpi buruk biasa. Namun, semakin lama, detail dalam mimpi itu terasa semakin nyata. Setiap warna, aroma, dan suara seolah menembus batas antara tidur dan sadar.
Rasanya seperti ada sesuatu yang menuntunku untuk mengingat, untuk memperhatikan setiap potongan puzzle yang dipertontonkan setiap malam. Dan yang paling membuatku merinding, mimpi itu selalu berakhir di titik yang samatitik di mana aku merasa telah melihat sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.
Awal Mula Teror di Dalam Tidur
Semuanya bermula pada malam Kamis, saat hujan turun deras dan listrik di rumahku berkedip-kedip. Aku ingat benar malam itu, karena suara hujan begitu keras memukul genteng, seolah ingin menembus atap dan menyusup ke dalam kamarku.
Aku terlelap lebih awal dari biasanya, dan saat itulah mimpi itu pertama kali datang.
Di dalam mimpi, aku berjalan di lorong gelap yang tak berujung. Dindingnya basah, seolah baru saja diguyur hujan, dan setiap langkahku menggema panjang, menyatu dengan suara bisikan samar yang tak bisa kupahami.
Aku merasa ada sesuatu yang mengikutiku, sesuatu yang tidak pernah menampakkan diri, tapi kehadirannya begitu nyata di belakangku. Setiap kali aku menoleh, lorong itu terasa semakin panjang, dan lampu-lampu di atas kepalaku satu per satu padam, menyisakan kegelapan yang perlahan menelan segalanya.
Ritual Malam yang Tak Pernah Usai
Malam demi malam, mimpi itu berulang. Kadang detailnya berubah, tapi suasananya selalu samamencekam dan penuh teror. Ada beberapa hal yang selalu muncul di setiap mimpi berulang itu:
- Sosok bayangan hitam tanpa wajah, berdiri tepat di ujung lorong, menatapku tanpa mata.
- Suara detak jam yang semakin keras, seolah menghitung mundur waktu yang tersisa untukku.
- Aroma tanah basah yang menusuk hidung, seperti bau kuburan yang baru saja digali.
- Bisikan samar yang perlahan berubah menjadi jeritan memekakkan telinga.
Setiap kali aku terbangun, aku selalu butuh waktu lama untuk menyadari bahwa aku sudah kembali ke dunia nyata. Namun, perasaan gelisah itu tidak pernah benar-benar hilang.
Aku mulai takut untuk tidur, takut untuk kembali ke lorong itu, takut pada bayangan yang menunggu di ujung mimpi.
Pertanda di Balik Mimpi Berulang
Suatu malam, aku memutuskan untuk tidak tidur semalaman. Namun, tubuhku akhirnya menyerah, dan aku kembali terperangkap dalam mimpi yang samahanya saja kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Aku melihat pintu kayu tua di tengah lorong, dan di balik celahnya, sepasang mata merah menatapku tajam. Aku mendengar namaku dipanggil, pelan tapi jelas, seperti suara seseorang yang sangat kukenal tapi tak bisa kuingat siapa.
Dengan tangan gemetar, aku mencoba meraih gagang pintu itu. Suhu di sekitarku turun drastis, napasku berubah jadi kabut tipis. Saat genggamanku menyentuh kayu tua yang dingin, pintu itu perlahan terbuka, mengeluarkan derit panjang.
Aku tahu seharusnya aku berbalik, tapi rasa penasaran dan teror bercampur menjadi satu, menahan kakiku tetap di tempat.
Sampai Hari Ini...
Sudah lebih dari tiga minggu aku dihantui mimpi berulang ini. Setiap malam, aku semakin dekat dengan pintu kayu itu. Setiap malam, suara panggilan itu semakin jelas.
Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengusir mimpi ituminum teh hangat, berdoa sebelum tidur, bahkan tidur dengan lampu menyalanamun semuanya sia-sia. Satu-satunya yang berubah hanyalah perasaan bahwa aku tidak lagi sendiri di kamar ini.
Aku mulai memperhatikan hal-hal aneh: bayangan yang bergerak di sudut mataku, suara langkah kaki di lorong rumah saat semua orang sudah tidur, dan pintu lemari yang kadang terbuka sedikit tanpa alasan.
Aku bahkan menemukan tanah basah tercecer di lantai kamarku suatu pagi, persis seperti aroma yang selalu hadir dalam mimpiku.
Malam ini, aku menulis ini sambil menunggu kantuk datang. Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Dari balik jendela, aku bisa merasakan tatapan yang sama seperti dalam mimpidingin, tajam, dan penuh dendam.
Aku tahu, cepat atau lambat, aku harus membuka pintu itu sepenuhnya. Tapi, jika aku masuk ke dalamnya... apakah aku masih bisa kembali?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0