Misi Pertama Tim Kontainmenku Berakhir Tragis di Rumah Lamaku

Oleh VOXBLICK

Kamis, 20 November 2025 - 02.10 WIB
Misi Pertama Tim Kontainmenku Berakhir Tragis di Rumah Lamaku
Misi Kontainmen Berakhir Tragis (Foto oleh Plato Terentev)

VOXBLICK.COM - Malam itu, hujan turun membasahi jalan setapak menuju rumah lamakutempat di mana segalanya bermula. Aku, sebagai pemimpin baru tim kontainmen, seharusnya merasa bangga. Namun, udara di sekitar rumah tua itu terasa tebal, penuh bisikan yang tak terlihat. Inilah misi pertamaku, di mana harapan dan rasa takut bergulat di dalam dada.

Rumah itu berdiri bisu, diapit pepohonan tua yang daunnya bergetar diterpa angin. Setiap langkah mendekat membuatku semakin sadar: aku membawa timku ke dalam rahasia yang seharusnya terkubur bersama masa laluku.

Tapi tugas adalah tugas, dan rasa penasaran telah mengalahkan naluri untuk mundur.

Misi Pertama Tim Kontainmenku Berakhir Tragis di Rumah Lamaku
Misi Pertama Tim Kontainmenku Berakhir Tragis di Rumah Lamaku (Foto oleh Mikhail Nilov)

Jejak Pertama di Dalam Rumah Tua

Pintu berderit ketika kami membukanya. Senter-senter kami memantulkan cahaya di dinding penuh lumut, menyorot foto-foto keluarga yang tersisa. Aku mendengar napas teman-teman setimku, berat dan terputus-putus.

Mereka, seperti aku, merasa ada yang tak beres. Aroma kayu basah bercampur bau besi tua menusuk hidung.

Kami membagi tugas:

  • Ani dan Dito memeriksa lantai atas, tempat kamar masa kecilku berada.
  • Raka dan Santi menyisir dapur dan ruang makan, mencari sumber suara aneh yang sejak tadi terdengar samar.
  • Aku sendiri menuju ruang bawah tanahruang yang sejak kecil selalu kuhindari.

Rahasia Gelap Ruang Bawah Tanah

Langkahku berat menuruni anak tangga yang reot. Setiap pijakan seperti menyentuh kenangan lama suara lolongan angin, bisikan samar di balik tembok.

Di bawah cahaya senter, aku melihat peti kayu tuapeti itu, yang dulu dilarang keras oleh ayahku untuk dibuka.

Jantungku berdegup kencang. Aku membungkuk, membuka peti perlahan. Bau anyir menyesak keluar, membuatku hampir muntah. Di dalamnya, kain lusuh berlumuran noda gelap... dan sesuatu yang bergerak pelan di bawah tumpukan kain itu.

Jeritan dan Bayangan yang Menari

Tiba-tiba, jeritan Ani memecah keheningan. Aku berlari ke atas, mendapati Dito berdiri terpaku di depan cermin kamar, matanya kosong menatap bayangan sendiri. Ani terduduk di sudut, tubuhnya gemetar, mulutnya berkomat-kamit memohon ampun.

Di dapur, Santi dan Raka membeku di tempat. Di dinding, bercak darah segar membentuk pola anehseperti simbol yang pernah kulihat di buku tua milik nenek. Suara langkah kaki berat bergema, padahal tak ada siapa pun di lorong.

Pintu-pintu tertutup dengan sendirinya, mengunci kami di dalam rumah itu.

  • Telepon kami mati total, sinyal menghilang.
  • Jam dinding berputar mundur sendiri, dan kaca-kaca berembun menampilkan tulisan samar: "Pulanglah... sebelum terlambat."
  • Salah satu jendela tiba-tiba pecah, angin membawa bisikan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Misi Pertama yang Tidak Pernah Selesai

Kami berkumpul di ruang tamu, napas tersengal, saling menatap dengan wajah penuh ketakutan. Aku tahu, ada sesuatu di rumah ini yang tidak ingin kami temukan.

Suara tawa kecil terdengar dari loteng, diikuti suara langkah-langkah kecil menuruni tangga, padahal semua anggota tim sudah berkumpul di depanku.

Pintu depan terbuka sendiri. Angin dingin menyapu masuk, membawa aroma kematian yang menusuk. Aku menoleh ke belakang, dan di ujung lorong, sosok anak kecil dengan mata hitam legam menatap kamitersenyum lebar dengan bibir berlumuran darah.

Tubuhku membeku. Satu per satu lampu padam, dan suara-suara aneh memenuhi setiap sudut rumah. Aku mencoba berteriak, tetapi suara tercekat di tenggorokan.

Dalam kegelapan, satu per satu anggota timku menghilang, terseret ke dalam bayangan yang menari-nari di dinding.

Ketika cahaya kembali, aku sendirian. Rumah itu sunyi, seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi.

Tapi di lantai ruang tamu, aku menemukan foto keluarga lamawajah kami semua ada di sana, termasuk sosok anak kecil bermata hitam itu, berdiri tepat di sampingku. Dan pada foto itu, ada tulisan merah: "Misi pertama... selalu berakhir tragis."

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0