Museum Benda Terkutuk yang Tak Pernah Sepi Saat Malam

Oleh VOXBLICK

Selasa, 04 November 2025 - 03.00 WIB
Museum Benda Terkutuk yang Tak Pernah Sepi Saat Malam
Museum benda terkutuk (Foto oleh Engin Akyurt)
<>

VOXBLICK.COM - Langit malam di atas museum tua itu selalu tampak lebih gelap daripada di tempat lain. Udara di sekitarnya mengandung aroma kayu tua dan sesuatu yang tak bisa dijelaskansesuatu yang tajam, seperti bau logam bercampur tanah basah. Aku adalah penjaga malam di Museum Benda Terkutuk, tempat yang bahkan siang harinya pun terasa terlalu sunyi, namun anehnya, saat malam, setiap lorong dan sudutnya justru seakan hidup.

Setiap malam, aku menelusuri lorong-lorong panjang yang dipenuhi lemari kaca berisi benda-benda aneh dan tua.

Ada boneka porselen tanpa mata, cermin kecil dengan bercak karat hitam seperti darah kering, dan kotak musik yang tak pernah berhenti berputar walau pegasnya sudah aus. Orang-orang di luar sana mungkin menganggapku gila, tapi aku tahu, museum ini tidak pernah benar-benar kosong. Malam-malamnya selalu dimeriahkan oleh bisikan dan langkah kaki yang bukan milikku.

Museum Benda Terkutuk yang Tak Pernah Sepi Saat Malam
Museum Benda Terkutuk yang Tak Pernah Sepi Saat Malam (Foto oleh Денис Нагайцев)

Langkah-Langkah yang Mengikuti

Suatu malam, tepat ketika jarum jam tua di aula utama menunjuk pukul dua belas, aku mendengar langkah kaki berderap di lantai kayu. Awalnya pelan, lalu semakin jelas. Aku menahan napas, menajamkan telinga. Tidak ada pengunjung, aku yakin betul.

Namun suara itu terus bergerak, mengitari galeri benda-benda terkutuk, seolah ada seseorangatau sesuatuyang tengah berpatroli bersamaku.

Aku mencoba mengabaikannya, menyibukkan diri memeriksa daftar inventaris benda terkutuk:

  • Topeng kayu dari pedalaman Kalimantan, konon membawa kutukan bagi siapa pun yang menatap matanya terlalu lama.
  • Jam saku perak yang selalu berdetak mundur setiap tengah malam.
  • Kain kafan tua dengan noda merah yang tak pernah hilang meski sudah dicuci berkali-kali.

Namun, langkah-langkah itu seakan semakin dekat. Aku memutuskan untuk mengintip ke balik lemari kaca, dan di sanalah, pantulan samar wajah asing menatapkubukan wajahku sendiri.

Benda-Benda yang Berbisik

Malam-malam di museum benda terkutuk tak pernah benar-benar sunyi. Pernah suatu kali, suara bisikan halus terdengar dari boneka porselen di ruang utama. Bisikan itu lirih, namun jelas: “Jangan tinggalkan aku sendiri.

” Aku mendekat, jantungku berdegup kencang. Tangan boneka itu terangkat perlahan, seolah ingin menggapai, padahal aku tahu persistak ada mekanisme bergerak di dalamnya.

Pernah juga aku melihat jam saku perak itu terbuka sendiri. Jarumnya bergerak mundur, dan tiba-tiba udara di sekitarku menjadi dingin menggigit.

Aku mendengar suara tawa kecil dari balik rak benda antik, tawa yang terdengar seperti milik anak-anak, namun gema dan nada suaranya terlalu tua untuk tubuh sekecil itu.

Malam yang Tak Pernah Usai

Bekerja di museum benda terkutuk bukan soal menjaga koleksi, tapi bertahan dari malam-malam yang tak pernah benar-benar berlalu. Ada sesuatu tentang kegelapan di dalam lorong ini, sesuatu yang menolak untuk pergi walau matahari terbit.

Setiap malam, aku merasa diawasi, seolah benda-benda di balik kaca itu mengamati setiap langkahku, setiap embusan napasku, menunggu sesuatu...

Pagi hari, aku selalu menemukan barang-barang yang berpindah tempat sendiri. Ada jejak kaki kecil di debu, pintu lemari kaca yang terbuka padahal sudah kukunci.

Pernah aku menemukan kunci pintu utama tergeletak di lantai, padahal aku yakin telah menyimpannya di saku. Dan suarasuara bisikan, tawa, isak tangistidak pernah benar-benar hilang, bahkan saat aku menutup telinga dan memejamkan mata.

Aku atau Mereka?

Beberapa malam lalu, aku memutuskan untuk merekam suara-suara itu. Aku letakkan perekam kecil di tengah aula, berharap bisa membuktikan pada diriku sendiri bahwa semua ini hanya ilusi.

Namun saat pagi datang, file di perekam itu hanya berisi suara nafasku sendiridan di tengah-tengahnya, suara berat yang berbisik sangat dekat dengan mikrofon: “Giliranmu.”

Aku tak yakin malam berikutnya aku masih akan sendiri di museum ini. Mungkin langkah-langkah yang mengikuti itu akan berhenti tepat di belakangku.

Mungkin malam ini, benda-benda terkutuk itu tak sekadar mengamati, tapi menjemput seseorang untuk menemani mereka... selamanya.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0