Penguntit Masa Kecilku Kembali di Tengah Malam Mencekam

Oleh VOXBLICK

Kamis, 15 Januari 2026 - 03.00 WIB
Penguntit Masa Kecilku Kembali di Tengah Malam Mencekam
Penguntit masa kecil kembali (Foto oleh Matt Webster)
<>

VOXBLICK.COM - Malam itu, jam dinding di ruang tamu berdetak lambat, seolah-olah waktu sendiri menunda langkahnya. Aku duduk di sudut ruangan, hanya ditemani remang lampu tidur dan suara desir angin yang menyusup dari celah jendela tua. Sudah hampir dua puluh tahun sejak aku meninggalkan kampung halaman dan segala kenangan buruk di dalamnya. Tapi malam itu, sesuatu yang lama terkubur dalam ingatanku kembali munculsebuah bayangan masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang.

Ketika aku kecil, ada satu sosok yang selalu mengikutiku di malam-malam sendu. Orang-orang menyebutnya hanya khayalan anak-anak, atau mimpi buruk yang akan hilang seiring dewasa. Tapi aku tahu, ia nyata.

Ia adalah penguntit masa kecilkusosok dengan bayangan lebih gelap dari malam, matanya menyorot dari balik tirai tipis di kamarku. Aku tak pernah melihat wajahnya jelas, hanya siluet kurus dan napas berat yang menggema di lorong rumah tua kami.

Penguntit Masa Kecilku Kembali di Tengah Malam Mencekam
Penguntit Masa Kecilku Kembali di Tengah Malam Mencekam (Foto oleh Julien)

Jejak Malam yang Tak Pernah Padam

Setelah bertahun-tahun, aku yakin semua itu hanyalah sisa trauma. Namun, malam itu, di tengah keheningan yang menyesakkan, suara langkah kaki kecil terdengar dari lorong rumah. Aku mematung.

Lantai kayu berderit pelan, seolah-olah seseorangatau sesuatuberjalan perlahan mendekat. Jantungku memburu, dan bulu kudukku berdiri. Aku tahu suara itu. Suara yang sama seperti dua dekade silam.

Telepon genggamku bergetar. Pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk: “Kamu masih ingat aku?” Jari-jariku membeku, pikiranku berputar liar. Aku menatap pintu kamar yang perlahan bergetar, di baliknya bayangan panjang merayap di celah cahaya.

Pertemuan Kedua yang Tak Diundang

Tanpa sadar, aku menahan napas ketika pintu itu terbuka sedikit demi sedikit. Tak ada suara, hanya hembusan udara dingin menusuk tulang. Di balik pintu, samar-samar kulihat sepasang matakelam, tak berkedip, menatap lurus ke arahku.

Aku ingin berteriak, tapi suara tercekat di tenggorokan. Tubuhku tak sanggup bergerak, seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang menahanku di tempat.

  • Langkah kaki kecil itu semakin dekat, menggemakan masa lalu yang suram.
  • Bayangan di dinding menari, membentuk siluet yang tak asing bagiku.
  • Suara napas berat, seperti seseorang yang menahan amarah, terdengar jelas di telingaku.

“Kenapa kamu kembali?” bisikku, entah kepada siapa. Tapi tak ada jawaban, hanya suara nafas itu semakin dekat. Aroma tanah basah dan debu tua memenuhi ruangan.

Aku menutup mata, berharap ketika kubuka semua ini hanyalah mimpi buruk seperti masa kecil dulu. Tapi ketika ku buka mata, sosok itu sudah berdiri di ujung ranjang, menatapku dengan tatapan kosongnya.

Malam Mencekam yang Tak Pernah Usai

Waktu bagai berhenti saat kami saling menatap. Aku mencoba mencari keberanian dalam diriku, namun tubuhku tetap kaku. Ia mengangkat tangannya perlahan dan menunjuk ke arah jendela.

Di luar sana, malam semakin pekat, bulan tertutup awan, dan suara lolongan anjing liar terdengar dari kejauhan. Aku tahu, jika aku menoleh ke jendela, sesuatu yang lebih mengerikan menantiku di sana.

Lampu kamar tiba-tiba padam. Dalam gelap, aku hanya bisa mendengar suara bisikan halus di telingaku, “Aku tak pernah benar-benar pergi.” Rasa dingin menyergap, membekukan seluruh tubuhku. Aku ingin berlari, tapi kakiku seolah terpaku ke lantai.

Dalam kegelapan, aku bisa merasakan keberadaan sosok itu, semakin dekat, napasnya menempel di leherku.

Dan di detik berikutnya, suara derit pintu kamar terdengar lagi, kali ini dari arah yang berbeda. Ada sesuatuatau seseoranglain yang masuk. Aku hanya bisa menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Malam itu, aku sadar, bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Bahkan ketika pagi menjelang, jejaknya masih tertinggal di sudut ruangan, dan ketakutan itu… tetap hidup di dalam diriku.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0