Rahasia Kelam Mausoleum dan Kutukan Sang Nabi Remaja

Oleh VOXBLICK

Senin, 01 Desember 2025 - 23.40 WIB
Rahasia Kelam Mausoleum dan Kutukan Sang Nabi Remaja
Misteri mausoleum dan nabi remaja (Foto oleh lalesh aldarwish)

VOXBLICK.COM - Angin malam menyusup di sela-sela nisan tua, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang layu. Aku berdiri termangu di depan gerbang besi berkarat, menatap mausoleum megah yang konon menyimpan rahasia kelam. Ini bukan sekadar bangunan pemakaman tuatempat ini adalah sumber cerita yang mengusik tidur penduduk desa, sebuah legenda tentang Sang Nabi Remaja dan kutukan abadi yang menyelimuti setiap batu nisannya.

Langkah Pertama ke Dalam Kegelapan

Suara gesekan ranting dan bisikan angin mengiringi langkahku memasuki halaman mausoleum. Dinding-dindingnya menjulang, dihiasi pahatan wajah-wajah muram yang seolah memandang ke dalam jiwaku.

Beberapa jendela berukir kaca patri menampilkan sosok remaja berwajah sendu, matanya kosong menembus waktu. Di sinilah, menurut cerita lama, seorang remaja bernama Ezra menerima wahyu pertamabukan dari surga, tapi dari lorong-lorong gelap dunia bawah.

Rahasia Kelam Mausoleum dan Kutukan Sang Nabi Remaja
Rahasia Kelam Mausoleum dan Kutukan Sang Nabi Remaja (Foto oleh Luca Vaccaro)

Malam itu, aku dan dua temankuLina dan Bagasmemutuskan menantang larangan kuno. Kami membawa senter, papan Ouija, dan keberanian setipis tisu. “Kau yakin ingin masuk?” bisik Lina, matanya mengedar ke sekeliling.

Bagas mencoba tertawa, tapi suaranya terdengar kaku. Kami saling menggenggam tangan, menyusuri koridor batu yang mengarah ke ruang utama. Di sanalah altar marmer dengan ukiran aneh menanti kami, dan di atasnya, sebuah kitab tua yang konon milik Sang Nabi Remaja.

Bisikan dari Kubur dan Altar Terlarang

Kami duduk melingkar di depan altar, menyalakan lilin kuning yang kami bawa. Bayangan kami menari di dinding, menciptakan ilusi sosok-sosok yang bergerak lirih. Aku membuka kitab itu dengan tangan gemetar.

Tulisan-tulisan kuno memenuhi halaman, namun di antaranya ada catatan tangan yang jelas ditulis oleh seseorang yang masih sangat muda:

  • “Aku mendengar suara mereka setiap malam.”
  • “Mereka berkata aku harus memimpin, atau kutukan akan bangkit.”
  • “Jika aku gagal, tidak akan ada yang selamat.”

Lina mulai membaca keras-keras, dan saat suaranya menggetarkan ruangan, angin dingin berhembus dari balik dinding. Tiba-tiba, senter kami padam serempak. Gelap pekat menelan semuanya, kecuali cahaya lilin yang bergetar seperti hendak padam.

Lalu, terdengar suara langkah kaki di belakang kamipelan, menyeret, seolah berasal dari makam paling dalam.

Wajah Sang Nabi Remaja

Bagas menoleh panik. “Ada seseorang di sana!” bisiknya histeris. Aku mencoba menenangkan diri, tapi detak jantungku berpacu semakin kencang.

Dari bayang-bayang altar, muncul sosok remaja dengan jubah putih lusuh, matanya kosong dan bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Ia menatap langsung ke arahku, dan tiba-tiba seluruh ruangan bergetar. Kami terpaku, tak mampu bergerak, seolah waktu membeku dalam rasa takut yang membara.

Sosok itu menunjuk ke arah kitab, lalu ke arah kami satu per satu. “Ambil alih. Lanjutkan tugas. Atau biarkan kutukan berjalan,” bisiknya, suaranya menggemuruh di kepalaku.

Aku merasakan hawa dingin menelusup ke tulang-tulang, seakan sesuatu yang tak terlihat tengah merayap naik dari lantai batu.

Kutukan yang Menyusup ke Dalam Diri

Tak ada yang berkata sepatah kata pun. Kami berlari keluar, meninggalkan kitab dan lilin yang kini padam sendirinya. Begitu sampai di luar, aku merasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat bayangan remaja itu di setiap sudut gelap, matanya menatapku dengan tatapan penuh luka dan amarah. Setiap malam setelah kejadian itu, suara langkah kaki dan bisikan lirih memenuhi kamarku.

  • Lina jatuh sakit esok harinyaia tak pernah bangun lagi.
  • Bagas menghilang tanpa jejak, hanya menyisakan catatan berisi simbol-simbol yang sama seperti dalam kitab.
  • Aku sendiri, terbangun setiap malam dengan perasaan diawasi.

Orang-orang desa berkata, siapa pun yang memasuki mausoleum dan membaca kitab Sang Nabi Remaja, akan membawa pulang kutukannya.

Tapi tidak ada yang pernah tahu, apa yang sebenarnya diinginkan sang nabidan mengapa ia belum juga pergi dari mausoleum itu.

Sampai hari ini, setiap kali aku menutup mata, aku masih bisa mendengar bisikan itu: “Ambil alih. Lanjutkan tugas. Atau biarkan kutukan berjalan.”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0