Rahasia Mengerikan di Balik Proyek Epsilon dan Suplemen Misterius
VOXBLICK.COM - Langit malam itu terasa lebih kelam dari biasanya. Jalan setapak menuju asrama Proyek Epsilon hanya diterangi cahaya lampu redup, membuat setiap bayangan seolah menari-nari di sudut mataku. Aku masih mengingat jelas, detik-detik sebelum semuanya berubahketika seorang teman, Raka, menyodorkan sebuah kapsul kecil berwarna perak, katanya, “Ini suplemen baru dari laboratorium. Bikin otak encer, katanya.”
Aku menatap benda itu ragu. Tapi rasa penasaran dan kelelahan setelah berhari-hari mengerjakan eksperimen membuatku menyerah. Malam itu, tanpa bertanya lebih lanjut, aku menelannya.
Rasanya hambar, tapi ada sensasi dingin yang menjalar dari tenggorokan ke dalam dada. Aku tidak tahu, itu adalah awal dari kisah mengerikan yang akan mengubah hidupku selamanya.
Bisikan dalam Gelap
Malam-malam berikutnya, sesuatu berubah di dalam diriku. Aku mulai terbangun di tengah malam, keringat dingin membasahi tubuh. Di luar jendela, suara bisikan samar terdengar, seolah memanggil namaku.
Aku mencoba menenangkan diri, tapi suara itu semakin jelas. “Epsilon... buka pintunya...,” suara itu mengalun, lirih namun penuh tekanan. Aku menutup telinga, tapi bisikan itu menembus pikiranku, menari di antara batas sadar dan mimpi.
Suatu malam, aku memberanikan diri keluar kamar, mengikuti bisikan yang membawaku ke lorong laboratorium yang gelap dan sepi. Lampu-lampu di langit-langit berkedip, menambah suasana mencekam.
Aku melihat Raka berdiri di ujung lorong, punggungnya membelakangiku. “Raka? Kamu ngapain di sini?” tanyaku perlahan. Ia tak menjawab, hanya berdiri diam. Lalu perlahan, tubuhnya berbalik, namun wajahnya... bukan wajah Raka yang kukenal. Matanya kosong, hitam pekat, dan bibirnya bergerak pelan, “Sudah terlambat untuk kembali...”
Bayangan yang Tak Pernah Pergi
Sejak saat itu, aku merasa terus diawasi. Setiap sudut ruangan dipenuhi bayangan yang bergerak-gerak, meski tak ada angin. Aku mulai kehilangan waktutiba-tiba saja sudah pagi, atau aku terbangun di tempat yang berbeda dari terakhir aku ingat.
Teman-teman lain di Proyek Epsilon mulai menunjukkan perubahan aneh: mereka bicara sendiri, atau menulis simbol-simbol aneh di buku catatan mereka.
- Pintu laboratorium terkadang terbuka sendiri di tengah malam, padahal sudah dikunci ganda.
- Suara langkah kaki yang berat sering terdengar, padahal lorong sepi.
- Catatan eksperimen berubah sendiriada coretan-coretan yang tak pernah aku tulis, dengan kata-kata yang tak kupahami.
Setiap malam, aku merasa ada sesuatu yang merangkak di balik dinding, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Kadang, aku melihat sosok-sosok bergerak cepat di luar jendela, meski kamar asrama ada di lantai tiga.
Namun yang paling membuatku takut, adalah ketika aku melihat bayanganku sendiri di cermin kamar mandibayangan itu tersenyum, meski aku tidak.
Rahasia Gelap Proyek Epsilon
Rasa penasaran bercampur takut membuatku menyelidiki asal muasal suplemen misterius itu. Aku membongkar berkas-berkas lama di kantor laboratorium.
Di antara tumpukan dokumen, aku menemukan laporan rahasia dengan judul samar: “Proyek Epsilon - Fase Omega.” Di dalamnya, ada daftar namatermasuk namakudan catatan tentang efek samping “eksperimen kognitif tingkat lanjut”.
Jantungku berdegup kencang saat membaca bagian bawah dokumen: “Efek samping: halusinasi, kehilangan waktu, gangguan persepsi realitas, dan... koneksi ke entitas non-fisik.” Tanganku gemetar aku merasa sesuatu mengawasi dari balik bahuku.
Aku menoleh cepat, tapi ruangan kosong. Namun aku tahu, mulai detik itu, aku tak pernah benar-benar sendirian lagi.
Malam Tanpa Akhir
Malam-malamku berubah menjadi teror yang tak berujung. Setiap kali aku mencoba tidur, bisikan itu kembali, kali ini lebih jelas. “Kamu adalah bagian dari Epsilon... kami sudah menunggumu.
” Aku ingin keluar, kabur dari asrama, tapi pintu selalu terkunci, kuncinya menghilang begitu saja. Teman-temanku sekarang berjalan seperti mayat hidup, tatapan kosong dan senyum samar yang menakutkan.
Pernah suatu malam, aku menemukan diriku duduk di laboratorium dengan tangan penuh darah. Di depanku, tercoret simbol-simbol aneh di lantai, dan suara tawa lirih memenuhi ruangan. Aku ingin berteriak, tapi mulutku terkunci rapat.
Aku sadar, Proyek Epsilon bukan tentang kecerdasantetapi tentang membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.
Sampai hari ini, aku masih di sini. Setiap malam, bisikan itu makin keras, dan bayangan di sudut mataku mulai mengambil bentuk yang tak dapat kujelaskan. Jika kamu membaca ini, dan ada seseorang menawarkan suplemen misterius di tengah malamtolaklah.
Jangan biarkan Proyek Epsilon memilihmu. Tapi... tunggu, apakah kamu juga mendengar bisikan itu?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0