Tersesat di Kota Lupa Ingatan—Setiap Hari Awal Teror Baru
VOXBLICK.COM - Aku terbangun lagi. Bukan, bukan dari mimpi buruk, tapi ke dalam mimpi buruk yang sama, setiap hari. Langit-langit putih kusam ini, aroma lembap yang tak pernah hilang, dan bisikan-bisikan asing dari luar jendela. Aku tahu di mana aku berada, tapi tak seorang pun di kota ini yang tahu siapa aku, atau bahkan siapa diri mereka sendiri. Ini adalah Kota Lupa Ingatan, tempat setiap fajar adalah awal teror baru yang mengerikan.
Pagi pertama aku terbangun di sini, kepanikan murni merenggutku. Jalanan asing, wajah-wajah bingung yang menatapku seolah aku adalah hantu.
Aku mencoba bertanya arah, tapi setiap jawaban hanyalah serentetan pertanyaan balik yang sama: "Siapa kamu? Di mana ini? Apa yang terjadi kemarin?" Kemudian aku menyadari, "kemarin" tidak ada bagi mereka. Setiap hari, ingatan mereka direset, bersih seperti halaman buku yang baru. Aku, entah bagaimana, adalah satu-satunya pengecualian. Kutukan atau anugerah? Aku belum bisa memutuskan.
Bertahan di sini adalah sebuah seni yang mengerikan.
Setiap pagi, aku harus belajar ulang nama jalan, mencari tahu toko mana yang beroperasi hari itu (tergantung siapa pemiliknya yang kebetulan ingat cara membuka pintu), dan yang paling penting, mengenali wajah-wajah yang berpotensi menjadi ancaman. Seorang pria ramah kemarin bisa menjadi penjahat paranoid hari ini. Seorang wanita yang menangis kehilangan anaknya bisa tersenyum padaku esoknya, tanpa jejak kesedihan sedikit pun. Kota ini adalah panggung sandiwara absurd yang dipentaskan ulang setiap 24 jam. Ini adalah teror yang tak terbayangkan, sebuah siklus tanpa henti yang mengancam kewarasanku.
Fajar Tanpa Nama
Setiap detak jarum jam menuju fajar adalah siksaan. Aku berbaring, mencoba mengingat setiap detail hari sebelumnya, setiap percakapan, setiap ekspresi wajah.
Aku membuat catatan, coretan di dinding kamarku yang tersembunyi di balik poster robek, tapi itu hanya sedikit membantu. Apa gunanya mengingat jika tak ada orang lain yang bisa memvalidasinya? Aku adalah satu-satunya saksi atas keberadaan masa lalu di kota ini, dan beban itu terasa seperti rantai yang membelenggu di leherku.
Ritual Pagi yang Mengerikan
Ritual pagiku dimulai dengan mengamati. Dari jendela kecil, aku melihat kota terbangun. Kepanikan yang sama, kebingungan yang sama, dan kemudian, penerimaan yang sama.
Mereka mencari sarapan, menanyakan nama satu sama lain, atau mencoba menemukan rumah mereka yang "hilang". Beberapa menangis, beberapa tertawa, seolah ini adalah lelucon kosmis yang tak berujung. Aku harus hati-hati. Aku harus berpura-pura agar tidak menarik perhatian.
Aku telah belajar beberapa hal penting untuk bertahan di kota misterius ini:
- Jangan pernah menunjukkan bahwa aku mengingat.
- Selalu punya rute pelarian yang sudah direncanakan.
- Hindari keramaian yang baru saja "bangun" di pagi hari.
- Cari tempat persembunyian yang aman dan tidak mencurigakan untuk malam hari.
- Jangan pernah percaya siapa pun, tidak peduli seberapa ramah mereka hari ini. Mereka adalah warga yang lupa, namun bisa menjadi ancaman tak terduga.
Ini adalah petualangan horor pertamaku, terjebak di Kota Lupa Ingatan, dan aku tidak tahu apakah aku akan selamat dari teror yang tak terbayangkan ini.
Bisikan di Antara Lupa
Beberapa kali, aku mendengar bisikan. Bukan kata-kata yang jelas, lebih seperti gema, jejak-jejak dari hari-hari yang terlupakan yang entah bagaimana menembus kabut ingatan. "Dia melihat..." "Jangan biarkan dia ingat..." "Lingkaran...
" Aku selalu mengabaikannya, menganggapnya sebagai efek samping dari stres dan kurang tidur yang parah. Tapi bisikan itu semakin sering, semakin jelas, seolah-olah suara itu berasal dari dalam pikiranku sendiri. Apakah ada sesuatu yang lain di balik semua ini? Sebuah rahasia kelam yang disembunyikan oleh kota yang lupa ini?
Jejak yang Tak Pernah Ada
Aku mulai mencari pola. Mengapa aku ingat? Mengapa hanya aku? Aku menjelajahi setiap sudut kota, mencari petunjuk, sesuatu yang bisa menjelaskan fenomena ini.
Aku menemukan mural-mural aneh yang muncul dan menghilang, coretan di dinding yang tidak bisa kubaca, dan simbol-simbol yang tak kukenali. Seolah-olah kota itu sendiri mencoba berkomunikasi, atau mungkin, memperingatkanku dari bahaya yang lebih besar.
Suatu pagi, aku melihat seorang wanita tua yang selalu duduk di bangku taman. Dia menatapku. Tatapannya berbeda dari yang lain. Ada sesuatu di matanyapengenalan? Aku mendekat, jantungku berdebar tak karuan, melanggar semua aturanku sendiri.
"Nenek, apa yang Anda ingat?" tanyaku, suaraku bergetar.
Wanita tua itu tersenyum tipis, senyum yang terlalu tahu, terlalu tua untuk kota yang selalu baru ini. "Aku ingat segalanya, Nak," bisiknya, suaranya serak namun penuh makna. "Dan aku ingat kamu."
Kebenaran yang Mengintai
Kata-katanya membuatku merinding. Aku bukanlah satu-satunya. Ada orang lain yang mengingat.
Tapi mengapa mereka tidak menunjukkan diri? Apakah mereka juga terjebak dalam siklus ini, ataukah mereka adalah bagian darinya? Aku mulai melihat dunia dengan mata yang berbeda. Wajah-wajah warga yang dulu hanya lupa kini terlihat seperti topeng yang menutupi sesuatu yang lebih jahat. Gerakan-gerakan yang dulu acak kini tampak seperti bagian dari ritual yang lebih besar, sebuah tarian kematian tanpa akhir.
Aku mulai curiga bahwa "lupa ingatan" ini bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan sebuah mekanisme. Sebuah alat.
Untuk apa? Malam itu, aku bersembunyi di sebuah bangunan tua, sebuah perpustakaan terbengkalai yang penuh dengan buku-buku yang tak pernah dibaca. Aku mendengar langkah kaki di bawah. Bukan langkah kaki yang bingung atau terhuyung-huyung seperti warga kota lainnya. Ini adalah langkah kaki yang teratur, berirama, seolah-olah mereka tahu persis ke mana mereka pergi.
Aku mengintip dari celah lantai dua. Beberapa sosok bayangan bergerak di antara rak-rak buku. Mereka tidak berbicara, tetapi ada semacam getaran di udara, seolah mereka berkomunikasi tanpa suara.
Salah satu dari mereka berhenti di depan sebuah buku, mengangkatnya. Buku itu adalah jurnal, dan sampulnya berlumuran cairan merah kehitaman yang sudah mengering.
Kemudian, salah satu sosok itu menengadah. Matanya, di tengah kegelapan, bersinar dengan cahaya merah redup. Mata itu menatapku. Jantungku berhenti berdetak. Aku tidak pernah merasa seterbuka ini, seterbongkar ini. Dia tahu aku di sana.
Dia tahu aku mengingat.
Sosok itu tersenyum. Sebuah senyum yang bukan manusiawi, yang tidak memiliki ingatan, namun memiliki niat. "Selamat datang kembali," bisiknya, suaranya menggelegar di dalam kepalaku, bukan melalui telingaku. "Sudah waktunya untuk peranmu lagi."
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0