Cerita Menyeramkan Api Unggun Yang Mengubah Hidupku Selamanya
VOXBLICK.COM - Malam itu, hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Kami duduk melingkar di sekitar api unggun, membiarkan cahaya oranye menari di wajah masing-masing. Udara dipenuhi aroma kayu terbakar dan suara letupan kecil dari bara yang menyala. Aku selalu mengira, api unggun adalah tempat untuk tawa dan cerita ringan. Namun, satu malam di hutan pinggir kota mengubah segalanyadan hidupku tak pernah kembali seperti semula.
Lingkaran Malam dan Kisah yang Tak Diundang
Ada tujuh orang malam itu, termasuk aku. Sebagian besar adalah teman lama, beberapa hanya kenalan. Di tengah keheningan, Rendipria jangkung dengan suara beratmeminta semua untuk memadamkan ponsel. “Biar suasananya terasa,” katanya, tersenyum samar.
Aku masih ingat suara burung hantu bersahutan di kejauhan, dan suara dedaunan yang bergesekan pelan diterpa angin malam.
Seseorang mulai bercerita tentang sosok perempuan berambut panjang yang sering muncul di hutan ini. Semua menertawakan, kecuali aku. Aku merasa ada sesuatu yang mengawasi dari balik pepohonan gelap.
Sinar api unggun seakan tak mampu menembus kegelapan di luar lingkaran kami. Tiba-tiba, Rendi berbicara lagi, kali ini dengan nada rendah, “Kalian pernah dengar cerita tentang si penunggu api unggun?”
Api, Bisikan, dan Bayangan
Suasana berubah tegang. Rendi menatap kami satu per satu, wajahnya hanya diterangi setengah oleh cahaya api. Ia bercerita tentang makhluk yang hanya muncul jika ada yang berani memanggil namanya di malam api unggun.
Konon, kata Rendi, makhluk itu suka meniru suara siapa pun yang memanggilnyadan akan mengikuti pulang siapa saja yang menantangnya.
- Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang, membuat nyala api bergetar hebat.
- Bayangan di tanah tampak bergerak liar, seolah menari mengikuti kisah yang diceritakan.
- Beberapa dari kami mulai merasa merinding, membetulkan posisi duduk, menatap gelisah ke sekeliling.
Lalu, di tengah cerita, terdengar bisikan samar dari balik semak-semak. “Pulang…” Begitu lirih, tapi jelas. Kami saling pandang. Rendi tersenyum aneh, lalu berkata, “Itu cuma suara angin.
” Tapi aku tahu, suara itu bukan anginitu terdengar seperti suara teman kami, Sari, walau Sari duduk di sebelahku dan menatapku dengan mata yang membelalak ketakutan.
Ketakutan yang Menguntit Hingga Rumah
Malam itu, kami akhirnya bubar lebih cepat dari rencana. Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa ada yang mengikuti di belakang. Tak ada suara, tak ada langkah kakihanya sensasi dingin dan tatapan tak kasatmata.
Sesampainya di rumah, aku berusaha menenangkan diri. Namun, ketika masuk kamar, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku: di sudut cermin, bayangan perempuan berambut panjang berdiri diam, matanya hitam pekat menatapku lekat-lekat.
Aku tak bisa tidur malam itu. Setiap kali aku memejamkan mata, aku mendengar bisikan samar memanggil namaku. Suara itu berubah-ubah, kadang suara Rendi, kadang suara Sari, namun selalu berakhir dengan tawa pelan yang menghantui.
Aku mencoba menyalakan lampu, namun lampu tiba-tiba padam. Hanya sisa cahaya dari rembulan yang masuk lewat jendela, membuat bayangan di dinding tampak semakin jelas. Aku mulai bertanya-tanyaapakah aku benar-benar membawa sesuatu pulang dari api unggun itu?
Rahasia di Balik Bara yang Padam
Hari-hari berikutnya, hidupku berubah. Setiap malam, aku selalu terbangun pada jam yang sama, tepat pukul 2.17 dini hari. Selalu ada bau kayu terbakar menguar dari sudut kamar, dan setiap pagi aku mendapati jejak abu di lantai dekat tempat tidurku.
Aku mencoba menceritakannya pada teman-teman, tapi mereka semua hanya tertawa, mengira aku masih terbawa suasana cerita api unggun.
- Televisi menyala sendiri menampilkan layar penuh gangguan statis.
- Telepon rumah berdering, namun saat kuangkat, hanya suara napas berat yang terdengar.
- Setiap kali aku menyalakan lilin, api selalu membentuk siluet perempuan berambut panjang di dinding.
Aku berusaha mengabaikan, tapi malam demi malam, bisikan itu semakin jelas. Sampai suatu malam, aku menemukan sebuah pesan tertulis di kaca jendela kamarku, samar-samar, seolah ditulis dari luar: “Kamu sudah memanggilku. Aku akan selalu di sini.”
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi berani menyalakan api unggun. Setiap kali menutup mata, aku selalu melihat sosok itu berdiri di sudut gelap, menunggu. Kadang aku berpikir, mungkin aku tak pernah benar-benar pulang dari malam api unggun itu.
Dan jika Anda mendengar bisikan aneh di malam hari, apalagi setelah duduk di sekitar api unggunjangan pernah menoleh ke belakang. Sebab, bisa jadi… aku bukan satu-satunya yang membawa pulang sesuatu dari sana.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0