Jangan Pernah Masuk Walk-in Cooler Saat Malam Hari
VOXBLICK.COM - Suara detik jam dinding terdengar begitu keras di telinga ketika aku berdiri di sudut dapur restoran yang sudah hampir gelap. Lampu neon di atas berkedip-kedip, seolah-olah ikut merasakan suasana tegang yang menyelimuti ruangan. Malam itu, aku ditugaskan untuk menutup restoran lebih lambat dari biasanya. Teman-temanku sudah pulang, tinggal aku sendiri yang harus memastikan semua bahan makanan tersimpan rapi di dalam walk-in cooler sebelum pulang.
Sebenarnya, aku tidak pernah merasa nyaman dengan pendingin raksasa di pojok dapur itu. Entah kenapa, setiap kali membuka pintunya, hawa dingin yang keluar selalu membawa sensasi anehbukan hanya dingin, tapi juga ketakutan yang menusuk tulang.
Tapi aku mencoba mengabaikan perasaan itu. Toh, itu hanya lemari es besar, pikirku, tidak ada yang perlu ditakutkan.
Langkahku terasa berat ketika berjalan menuju walk-in cooler. Pegangan pintunya terasa dingin dan licin di telapak tangan. Begitu pintu terbuka, udara dingin langsung menyergap wajahku, membuat napasku membeku sejenak.
Lampu di dalam pendingin remang-remang, hanya menyoroti rak-rak penuh bahan makanan yang mengantre untuk dipakai esok harinya.
Hening yang Tidak Wajar
Begitu aku masuk, pintu di belakangku tertutup perlahan dengan bunyi mendecit yang mengerikan. Aku menahan napas, mendengarkan suara kakiku sendiri yang menjejak lantai logam. Tidak ada suara lain, tidak ada suara mesin, tidak ada suara dari luar.
Hening yang tidak wajar. Aku merasa, seolah-olah waktu berhenti di dalam ruangan itu.
Saat aku sedang menata kotak sayuran di rak bawah, sesuatu membuatku menoleh. Aku yakin, dari sudut mataku, ada bayangan bergerak di ujung ruangan. Tapi ketika kutatap lekat-lekat, hanya ada tumpukan daging beku dan sayuran layu.
Aku menggelengkan kepala, menyalahkan rasa lelah karena shift malam yang panjang.
Bisikan di Antara Kabut Dingin
Aku buru-buru menyelesaikan tugas, ingin segera keluar dan mengunci pintu pendingin itu. Namun, saat aku melangkah ke arah pintu, telingaku menangkap suara bisikan tipis. Awalnya samar, seperti desir angin.
Tapi lama-lama makin jelas, seolah-olah ada yang memanggil namaku dari dalam kabut dingin. Aku membeku di tempat, jantung berdegup liar.
- Bayangan di sudut walk-in cooler tampak semakin nyata.
- Suara bisikan berubah menjadi suara isakan pelan, seperti seseorang yang terjebak di dalam sana.
- Udara di sekelilingku terasa lebih dingin, menusuk hingga ke tulang.
Aku berbalik, menatap ke dalam kegelapan. Keringat dingin mengalir di pelipis meski suhu di dalam hampir beku. Aku ingin berteriak, tapi suara seolah hilang dari tenggorokan.
Dalam keremangan, aku melihat sosok samar berdiri di antara rak, matanya menatap lurus ke arahkumata yang kosong, tanpa kehidupan.
Pintu yang Tidak Mau Terbuka
Dengan panik, aku berlari ke pintu dan menarik tuas besi sekuat tenaga. Tidak bergerak. Pintu itu terkunci, padahal aku yakin sekali tidak ada mekanisme kunci otomatis.
Dari balik kaca kecil di pintu, aku bisa melihat dapur yang kosong, lampu neon di luar tetap berkedip-kedip. Aku memukul-mukul pintu, berharap ada yang mendengar. Tapi hanya gema suaraku sendiri yang kembali menggema di antara dinding logam tebal itu.
Di belakangku, suara langkah kaki berat mendekat perlahan. Nafasku tercekat. Aku tahu, apapun yang ada di dalam walk-in cooler malam itu bukan manusia. Aku menutup mata, berdoa agar semua ini hanya mimpi buruk.
Malam yang Tak Pernah Berakhir
Entah berapa lama aku terjebak di sana. Suara isak dan bisikan itu semakin jelas, seolah-olah mengelilingiku dari segala arah. Suhu ruangan turun drastis, dan setiap napas terasa seperti menghirup es.
Aku memejamkan mata, menahan air mata yang hampir jatuh. Tiba-tiba, suara pintu terbuka perlahan di belakangku, membawa cahaya terang yang menyilaukan. Aku menoleh, berharap itu adalah pertolongan.
Namun, yang kulihat hanya bayangan tinggi menjulang di ambang pintusenyumnya lebar, matanya kosong. Ia mengulurkan tangan padaku. Malam itu, aku akhirnya mengerti kenapa tidak ada yang pernah masuk walk-in cooler saat malam hari.
Tapi, apakah aku benar-benar keluar dari sana?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0