Jangan Pernah Tatap Aurora Borealis di Malam Tergelap
VOXBLICK.COM - Malam itu, kutinggalkan hiruk-pikuk kota dan melaju sendirian ke utara, menembus hutan pinus beku yang mengerikan. Satu-satunya alasan: aku ingin menyaksikan keindahan aurora borealis dengan mataku sendiri. Tapi, tak seorang pun memperingatkanku tentang rahasia gelap yang bersembunyi di balik cahaya berkelip di langit malam tergelap. Aku tidak tahu, malam itu akan mengubah segalanya.
Menuju Langit yang Membeku
Mobilku menggeram perlahan di atas salju. Di radio, hanya suara statis yang terdengar, terputus-putus oleh bisikan samar seperti desah napas seseorang. Tak ada rumah, tak ada lampu.
Cuma aku, kabin tua yang kusam, dan langit malam yang membentang luas. Lalu, sesuatu yang tak biasa terjadi. Jam digital di dasbor berdenyut aneh12:00, 00:21, 02:10berulang, seperti waktu menari di tempatnya sendiri. Aku menekan pedal rem, terhenti di lapangan salju yang membisu.
Di luar, suhu menusuk seperti ribuan jarum menancap ke kulit. Aku menengadah. Di atas sana, aurora borealis muncul, hijau dan ungu menari tak wajar, seperti luka yang menganga di langit. Tapi entah kenapa, malam itu terasa terlalu sunyi.
Tak ada suara burung hantu. Tak ada desir angin. Hanya detak jantungku yang menggila.
Bisikan di Bawah Cahaya Aurora
Aku berdiri, terpaku, menatap aurora borealis yang menari di atas kepala. Cahaya itu memikat, memanggilku lebih dekat. Namun, tiba-tiba, aku mendengar sesuatubisikan lirih yang tidak berasal dari bumi.
Ia datang dari balik pepohonan, dari balik bayang-bayang yang tak seharusnya ada di tempat sepi seperti ini.
“Jangan tatap… jangan tatap…”
Suara itu seperti gema, seperti suara masa lalu yang terlupakan. Aku berbalik, mencari asalnya. Namun, hanya ada pohon-pohon mati dan jejak kakiku sendiri di salju. Tapi bisikan itu semakin jelas, seperti suara anak kecil yang menahan tangis.
- Langkah kaki samar di salju, padahal aku berdiri sendiri.
- Bayangan tipis yang melintas di pinggir mataku, namun menghilang saat kutatap langsung.
- Udara yang tiba-tiba membeku, seolah seluruh dunia menahan napas.
Cahaya yang Membawa Kegelapan
Saat aku kembali menatap langit, aurora borealis berubah bentuk. Cahaya hijau itu membentuk wajah-wajah pucat yang menjerit tanpa suara. Mataku tak bisa berpaling.
Pandangan mereka menembusku, memaksa ingatanku terbuka pada luka-luka lama yang tak pernah sembuh. Tanganku gemetar, kakiku berat seperti tertanam di tanah.
Di antara bisikan yang menjerat, aku mendengar suara lainlebih berat, lebih tua, berbisik dari kedalaman bumi. “Kau telah melihat kami. Kini, kami melihatmu.”
Pandanganku berkunang-kunang. Aku ingin lari, tapi tubuhku membeku. Dari sudut mataku, aku melihat sosok hitam, tinggi dan kurus, muncul perlahan dari balik pohon. Wajahnya tanpa mata, tapi aku bisa merasakan tatapan dinginnya menembus jiwaku.
Rahasia di Balik Aurora Borealis
Entah berapa lama aku berdiri di sana, terperangkap dalam pelukan cahaya dan bayangan. Aku mencoba berteriak, tapi suara itu tercekik di tenggorokan.
Di kejauhan, aurora borealis semakin terang, menyilaukan, seperti portal ke dunia lain yang tak pernah ingin kuketahui.
Detik berikutnya, dunia seolah runtuh. Aku terbangun di dalam mobil, kaca berembun dan napas memburu. Langit sudah bersih, aurora lenyap tanpa jejak. Tapi di kaca jendela, ada bekas tangan kecil, seperti jejak yang ditinggalkan dari dunia lain.
Dan di telinga kiriku, bisikan itu masih menggema“Jangan pernah tatap aurora borealis di malam tergelap…”
Sejak malam itu, aku tak pernah bisa tidur nyenyak.
Kadang, saat lampu padam dan langit tampak terlalu pekat, aku masih melihat cahaya hijau menari di sela-sela bayangan… dan suara itu, selalu memanggil namaku, menunggu aku menatap ke atas sekali lagi.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0