Kisah Mencekam Guru SMA di New York yang Tak Pernah Terbayangkan
VOXBLICK.COM - Langit New York selalu tampak kelabu setiap kali bulan Oktober tiba. Aku, seorang guru Bahasa Inggris di SMA tua di pinggiran kota, sudah terbiasa dengan sunyi yang menyelimuti lorong-lorong sekolah menjelang malam. Namun, malam ituaku bersumpahada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menekan dadaku, membuat bulu kudukku berdiri ketika aku menyusuri koridor gelap, mencari buku pelajaran yang tertinggal di ruang kelas 3B.
Jam dinding tua di ruang guru sudah menunjukkan pukul 18.30 ketika aku sadar loker kelas belum terkunci. Suara hujan membasahi jendela, sesekali kilat menyambar, menerangi bayangan-bayangan aneh di balik kaca.
Aku menahan napas, mencoba menenangkan diri. Tapi langkah kakiku terhenti saat mendengar suara samarseperti bisikandatang dari kelas ujung lorong.
Koridor Sunyi dan Bisikan yang Tak Berwajah
Sekolah ituSMA yang sudah berdiri sejak 1920punya reputasi sebagai tempat yang penuh rahasia. Tapi aku bukan tipe yang percaya dengan cerita-cerita lama. Malam itu, entah kenapa, aku merasa cerita-cerita itu bukan sekadar dongeng murid-murid iseng.
Lorong tampak memanjang tak berujung, lampu neon berkedip-kedip, dan setiap bayangan seolah memperhatikan setiap gerakanku.
Bisikan itu makin jelas. Aku mencoba mengabaikannya, meyakinkan diri itu hanya suara angin. Tapi saat kulangkahkan kaki ke depan kelas 3B, aku mendengar suara kursi diseret dari dalam. Suara itu berhenti seketika ketika aku menyentuh gagang pintu.
Jantungku berdebar. Tidak ada siapa pun yang seharusnya berada di sana, selain aku.
Pintu Terbuka dan Sosok di Balik Kaca
Dengan tangan gemetar, aku mendorong pintu ruang kelas. Lampu ruangan mati. Hanya cahaya kilat yang sesekali menyusup, menyorot deretan meja kusam dan papan tulis yang penuh coretan.
Di pojok ruangan, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku: bayangan hitam, berdiri diam, menatapku tanpa wajah.
Aku mundur perlahan, berniat lari. Tapi tiba-tiba, pintu di belakangku menutup sendiri, mengunci dengan bunyi klik nyaring. Di ruangan gelap itu, bisikan berubah menjadi rintihan.
Suara-suara mengerang, memanggil namaku dengan nada yang tidak manusiawi. Aku menahan teriakan, mencoba mencari saklar lampu, namun tanganku hanya menyentuh dinding dingin dan lembab.
- Bayangan itu bergerak mendekat, setiap langkahnya membuat suhu ruangan semakin mencekam.
- Meja-meja bergetar, papan tulis berderit, dan aku merasa seluruh ruangan berputar.
- Sebuah tangan dingin meraih bahuku dari belakang, mencengkeram erat.
Dalam sekejap, semuanya menjadi gelap. Aku merasa seperti tenggelam dalam kehampaan.
Namun, sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, aku mendengar suara samarsuara anak-anak tertawa, lalu suara batuk berat, seperti milik seseorang yang sudah lama tinggal di dunia lain.
Jejak Misteri di Pagi Hari
Ketika aku terbangun, aku sudah berada di ruang guru. Pagi sudah menjelang, cahaya matahari malu-malu menembus jendela berkabut. Kepala terasa berat, dan aku tidak ingat bagaimana bisa kembali ke sini.
Rekan-rekan guru menatapku aneh, menanyakan mengapa aku tidur di ruang guru dengan wajah pucat dan pakaian basah kuyup.
Aku hanya bisa terdiam. Tidak ada yang percaya ketika kuceritakan apa yang terjadi semalam. Mereka menganggap aku hanya terlalu lelah.
Tapi saat aku kembali ke kelas 3B untuk mengambil bukuku, aku menemukan sesuatu yang membuat jantungku hampir berhenti:
- Jejak kaki basah, seolah-olah seseorang berjalan keluar dari ruangan itu.
- Papan tulis dipenuhi coretan nama-nama murid yang sudah lama meninggal, termasuk nama seseorang yang tidak kukenaltapi entah mengapa terasa sangat familiar.
- Di sudut kelas, sebuah kursi terbalik, dan di bawahnya, selembar foto tua hitam putih: diriku, berdiri di antara murid-murid yang tidak pernah kuajar, di tahun yang bahkan belum pernah kualami.
Bayangan Tak Pernah Pergi
Sejak malam itu, lorong-lorong SMA tua di New York itu tidak pernah terasa sama lagi bagiku. Setiap langkahku selalu diikuti bayangan, setiap suara bisikan di malam hari menjadi pengingat akan kejadian yang tak pernah terbayangkan.
Kadang, di tengah malam, aku masih mendengar suara kursi diseret dari kelas 3B, dan pintu yang tertutup sendiri walau tidak ada angin.
Aku tidak pernah berani lagi menginjakkan kaki ke ruang kelas itu sendirian. Namun, setiap kali aku melewati lorong itu, aku selalu merasa ada sepasang mata yang mengawasiku dari balik kaca.
Dan kadang, di pantulan jendela, aku melihat sekilasbayangan hitam tanpa wajah, tersenyum tipis ke arahku.
Sekarang, aku hanya bisa bertanya-tanya apakah aku benar-benar pernah meninggalkan kelas 3B malam itu, atau... apakah aku masih di sana, bersama mereka?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0