Malam Ketika Anak Kami Menghilang dan Tidak Pernah Kembali
VOXBLICK.COM - Angin malam itu terasa menusuk. Pohon-pohon di sekitar rumah kami meliuk pelan, menimbulkan suara gesekan yang menggetarkan hati. Aku masih ingat jelas, malam ketika anak kami menghilang dan tidak pernah kembali. Semuanya berubah dalam sekejap, meninggalkan kami dalam keraguan dan ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.
Rumah kami terletak di pinggir desa, dikelilingi ladang kosong dan hutan kecil yang dari dulu selalu menjadi sumber cerita-cerita aneh. Malam itu, langit pekat tanpa bintang.
Hanya cahaya bulan yang pucat menembus sela jendela, membelah ruang tamu yang sepi.
Anak kami, Raka, baru berusia sembilan tahun. Ia selalu tidur lebih awal, tapi malam itu ia meminta izin keluar sebentar, katanya ingin mengambil mainan yang tertinggal di halaman belakang.
Kami sempat melarang, namun setelah ia memohon dengan mata bulatnya, kami luluh. “Cepat ya, jangan lama-lama,” pesanku, yang kini terus terngiang di kepala.
Suara-Suara dari Kegelapan
Sepuluh menit berlalu. Lalu dua puluh. Aku mulai gelisah. Biasanya Raka sangat penakut, tidak pernah berlama-lama di luar rumah setelah magrib. Aku keluar, memanggil namanya pelan-pelan. “Raka... ayo masuk, sudah malam!” Tidak ada jawaban.
Hanya desiran angin dan suara dedaunan yang bergesek seperti bisikan-bisikan samar.
Ayah Raka pun ikut mencari. Kami menyisir sudut-sudut gelap, menerangi setiap celah dengan senter. Di bawah pohon mangga tua, kami menemukan boneka kayu milik Raka, tergeletak di tanah. Namun, tak ada jejak kakinya.
Hanya tanah yang basah dan aroma dingin yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang menunggu di kegelapan.
Rahasia yang Terkubur
Malam kian larut. Tetangga-tetangga mulai berdatangan, membantu mencari. Namun, anehnya, seekor anjing peliharaan tetangga tiba-tiba meringkuk dan melolong ke arah hutan. Semua mata tertuju ke sana, ke kegelapan yang menelan suara kami.
Ayah Raka memberanikan diri menyorotkan lampu ke arah itu. Sekilas, aku melihat sesuatu bergerak cepat di antara pepohonanbayangan hitam, tinggi, kurus, dan tidak berbentuk manusia.
Seorang tetua desa yang dikenal pendiam tiba-tiba berkata dengan suara bergetar, “Dulu, sebelum rumah kalian dibangun, di sini pernah ada sesuatu yang... menunggu.” Ia berhenti, menelan ludah, lalu menatapku dengan mata sendu.
Aku tidak berani bertanya lebih jauh. Suasana semakin mencekam, seolah-olah udara pun membeku dan waktu berjalan lambat.
Malam yang Tak Pernah Usai
- Kami mencari hingga dini hari, namun tak menemukan apa pun selain jejak-jejak samar di tanah yang berujung di antara semak-semak gelap.
- Setiap malam berikutnya, suara ketukan lembut di jendela kamar Raka terdengar, selalu pada jam yang sama ketika ia hilang.
- Ayahnya sering bermimpi melihat Raka berdiri di ujung kasur dengan wajah pucat, bibirnya bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak terdengar suara.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku menemukan sesuatu yang aneh di kamar Raka. Di bawah bantalnya, tersembunyi secarik kertas lusuh bertuliskan, “Jangan biarkan aku sendiri malam ini.
” Tulisan tangannya sendiri, tapi aku tak pernah mengingatnya menulis pesan itu.
Sampai detik ini, Raka belum pernah kembali. Tidak ada jejak, tidak ada kabar. Hanya malam-malam panjang yang dipenuhi bisikan, ketukan jendela, dan bayangan yang terkadang kulihat dari sudut mataku.
Kadang aku berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Namun, tiap pagi tiba, aku selalu terbangun dengan perasaan bahwa sesuatuatau seseorangmasih menunggu di luar sana. Dan aku tak pernah tahu, apakah malam berikutnya giliran aku yang dipanggil oleh kegelapan itu.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0