Malam Mencekam di Rumah Mantan Istri yang Terbengkalai

Oleh VOXBLICK

Rabu, 14 Januari 2026 - 01.00 WIB
Malam Mencekam di Rumah Mantan Istri yang Terbengkalai
Rumah mantan yang mencekam (Foto oleh cottonbro studio)

VOXBLICK.COM - Angin malam berhembus dingin, menusuk hingga ke tulang. Aku berdiri terpaku di depan pagar besi tua yang sudah dipenuhi karat, menatap rumah mantan istriku yang kini terbengkalai. Sudah hampir dua tahun sejak rumah itu terakhir kali berpenghuni, sejak perpisahan yang nyaris menghancurkan segalanya. Namun malam ini, ada sesuatu yang belum selesai. Ada sesuatu milikku yang tertinggal di dalam sanasepotong kenangan yang tak mampu kubiarkan membusuk bersama kebisuan tembok-tembok usang itu.

Setiap jendela rumah itu seperti mata kosong, mengintip ke dalam kegelapan. Aku menarik napas panjang, menahan keraguan yang terus-menerus berbisik di telingaku.

Dengan senter kecil di genggaman, aku mendorong pagar, menimbulkan derit pelan yang terdengar seperti rintihan dari masa lalu. Malam itu, aku memutuskan melangkah masuk, menantang bayang-bayang yang menunggu di dalam.

Malam Mencekam di Rumah Mantan Istri yang Terbengkalai
Malam Mencekam di Rumah Mantan Istri yang Terbengkalai (Foto oleh Ray Bilcliff)

Jejak Kenangan di Lorong Sunyi

Langkah kakiku menimbulkan gemuruh di lantai kayu yang berderit pelan. Aroma lembab dan debu memenuhi hidungku, menggantikan wangi bunga melati yang dulu sering dipajang mantan istriku di ruang tamu.

Dinding-dindingnya penuh coretan, bekas tangan-tangan kecil anak kami yang kini entah di mana. Aku menyusuri lorong sempit, membiarkan cahaya senter menari-nari di antara bayangan.

  • Setiap sudut ruangan terasa asing, seolah menolak kehadiranku.
  • Suara detak jam tua di ruang tengah masih terdengar, walau jamnya sudah lama mati.
  • Sesekali, terdengar suara berbisik samar, entah dari mana asalnya.

Aku menuju kamar utama, tempat aku dan dia dulu berbagi banyak cerita. Kenangan itu terasa begitu nyata, membayangi setiap langkahku. Tapi malam ini, ada sensasi berbeda. Ada hawa dingin yang tak biasa, membuat bulu kudukku meremang.

Bayangan Tanpa Wajah

Di sudut kamar, aku melihat kotak kayu kecil yang dulu menjadi tempat kami menyimpan surat-surat cinta dan foto keluarga. Aku berjongkok, meraih kotak itu dengan tangan gemetar.

Namun, sebelum sempat membukanya, suara seperti seseorang menarik napas panjang terdengar dari balik lemari. Aku membeku. Helaan napas itu lirih, berat, seperti seseorang yang menahan tangis selama bertahun-tahun.

Jantungku berdegup kencang. Perlahan, aku menoleh. Pintu lemari yang sedikit terbuka itu menampakkan celah hitam pekat. Dalam keremangan, aku melihat siluet samarsosok tinggi, kurus, dengan rambut acak-acakan menutupi wajahnya.

Ia berdiri diam, tak bergerak. Aku menahan napas, berharap itu hanya bayangan atau imajinasiku yang terlalu liar.

Namun sosok itu maju selangkah. Lantai di bawahnya berderit, dan saat ia mengangkat kepala, aku melihat sebuah kekosongan menganga di tempat wajahnya seharusnya berada. Hanya hitam, pekat, seakan menyedot seluruh cahaya di ruangan.

Ketegangan yang Tak Terlepaskan

Senter di tanganku bergetar hebat. Suara bisikan itu kini semakin jelas, mengalun dalam bahasa yang tak kupahami. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Keringat dingin mengalir di pelipis.

Perlahan, sosok tanpa wajah itu melangkah mendekat, tangannya terulur, jemari panjangnya menggapai udara di depanku.

Langit-langit kamar seperti berputar. Matahari sudah lama tenggelam, dan malam semakin menyesakkan. Aku mundur, tersandung meja, kotak kayu terlepas dari genggaman.

Foto-foto lama berhamburan di lantai, satu di antaranya menampilkan aku, mantan istriku, dan anak kamisemua tersenyum bahagia.

Namun kini, di foto itu, hanya dua sosok yang tersisa. Wajahku menghilang, meninggalkan ruang kosong, seperti wajah makhluk yang kini berdiri di hadapanku.

Malam Mencekam Tak Pernah Usai

Aku mencoba berlari, tapi kakiku berat. Setiap langkah terasa seperti menembus lumpur pekat. Suara bisikan itu berubah menjadi jeritan, menembus telinga dan menusuk ke dalam kepala. Ruangan semakin gelap, senterku padam tiba-tiba.

Aku hanya bisa meraba-raba, mencari pegangan di antara kegelapan yang menelan segalanya.

Tiba-tiba, sentuhan dingin menyentuh bahuku. Nafasku terhenti. Dalam keheningan mutlak, aku mendengar suara pelan, nyaris seperti bisikan mantan istriku, "Kenapa kamu kembali...?"

Dan malam itu, tidak ada yang benar-benar berakhir di rumah mantan istri yang terbengkalai. Hanya kegelapan dan kenangan yang terus mengintai, menunggu siapa saja yang berani datang kembali.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0