Mimpi Suami Membunuhku Perlahan Menjadi Nyata Malam Itu
VOXBLICK.COM - Suara jam dinding berdetak pelan di dalam kamar yang remang. Aku terjaga di antara tidur dan sadar, menatap punggung suamiku yang berbaring membelakangiku. Aroma samar parfum yang biasa ia kenakan kini bercampur dengan sesuatu yang asingbau besi, segar tapi mengerikan. Malam itu, aku tersentak dari mimpi buruk: suamiku, sosok yang selama ini paling aku percayai, perlahan mencoba membunuhku. Tapi yang lebih menakutkan, setiap detil mimpi itu seperti merembes masuk ke dalam kenyataan. Aku ingin percaya semuanya hanya bunga tidur. Namun, semakin malam, firasatku makin buruk, seolah-olah mimpi itu adalah peringatan terakhir.
Kabut Mimpi yang Tak Lenyap
Pagi harinya, aku diam-diam mengamati suamiku. Senyum di bibirnya terasa kaku, matanya tak pernah benar-benar menatapku. Ada jeda aneh di antara obrolan kami, dingin dan penuh rahasia.
Aku mencoba mengusir rasa curiga, tapi setiap kali dia menyentuhku, aku justru merinding. Mimpiku semalam masih terbayang jelas: aku terjebak di kamar, tak bisa bergerak, napasku berat, dan dia berjalan perlahan ke arahku sambil membawa sesuatu di balik punggungnya.
Setiap sudut rumah seolah mengintai. Ada suara-suara kecil dari dapur, derit lantai kayu, bayangan yang bergerak di dinding.
Aku mulai mengingat bagian-bagian dari mimpi itu yang sebelumnya samar: suamiku berbisik sesuatu di telingaku, suaranya pelan namun penuh ancaman. Aku menggigil ketika mendengar bisikan serupa di dunia nyata, saat dia berkata, "Kamu tampak lelah hari ini, istirahatlah."
Malam yang Tidak Pernah Usai
Semakin malam, suasana rumah makin menyesakkan. Televisi menyala tanpa suara hanya cahaya biru berkedip-kedip di ruang tamu. Suamiku duduk di sudut ruangan, menatap layar ponselnya. Aku memperhatikan gerak-geriknya.
Setiap langkah, setiap lirikan, terasa berbeda. Ada beberapa hal aneh yang mulai aku sadari:
- Dia mengunci semua pintu sebelum tidur, bahkan pintu kamar mandi.
- Dia menghapus riwayat panggilan dan pesan di ponselnya setiap malam.
- Dia menyimpan sesuatu di bawah bantalnyaaku tidak berani mencari tahu apa.
Perasaan takut itu semakin nyata ketika aku terjaga di tengah malam. Suamiku tidak ada di sisiku. Aku mendengar suara langkah pelan di lorong. Aku menahan napas, berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Ada bayangan melintas di bawah celah pintu.
Aku bisa merasakan kehadirannya, seperti dalam mimpi burukku semalam.
Antara Realita dan Mimpi
Ketika aku memutuskan untuk mencari tahu, aku berjalan pelan menuju ruang tengah. Jantungku berdegup kencang setiap langkah terasa seperti menantang maut.
Di sana, dalam cahaya temaram, aku melihat suamiku berdiri membelakangiku, memegang sesuatu yang tajam di tangannya. Dia menoleh perlahan, wajahnya tersenyum lebarsenyum yang sama seperti di mimpiku.
"Kamu terbangun?" Suaranya tenang, nyaris tanpa emosi.
Aku mundur perlahan, tubuhku gemetar hebat. Antara ingin berlari dan tak mampu bergerak, aku hanya bisa menatap matanya. Ia mendekat, langkahnya pelan namun pasti, menyeret bayangan gelap di lantai.
Sejenak aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat di tenggorokan.
Bayang-Bayang Tak Pernah Pergi
Malam itu belum berakhir. Aku masih di sini, bersembunyi di balik lemari, menahan napas, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir saat matahari terbit. Tapi suara langkah kaki itu makin dekat, napasnya terdengar di balik pintu.
Aku memejamkan mata, berharap aku akan terbangunnamun ketakutan itu terlalu nyata. Mungkin inilah akhirnya, atau mungkin... mimpi buruk ini baru saja dimulai.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0