Order Misterius dari Gedung Terbengkalai Bikin Nyali Ciut
VOXBLICK.COM - Langit malam meneteskan gerimis tipis ketika motor tuaku menderu pelan di jalanan sepi. Aku, Rendi, seorang driver pengantar makanan paruh waktu, sudah terbiasa dengan pesanan larut malam. Tapi sejak seminggu lalu, ada satu order misterius yang terus menghantuikusebuah permintaan dari gedung terbengkalai di pinggir kota. Orang-orang menyebutnya Gedung Tua Beringin, tempat cerita-cerita gelap bersembunyi di sudutnya.
Setiap notifikasi order masuk dari aplikasi, aku berharap bukan alamat itu.
Namun malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, namaku terpampang jelas di layar: “Orderan baru – Gedung Beringin, Lantai 3, Ruang 305.” Jantungku berdetak lebih cepat. Tak ada nama penerima, hanya instruksi pengantaran yang sama: “Letakkan makanan di depan pintu, jangan ketuk, tunggu hingga bunyi lonceng.”
Gedung Kosong, Suara-Suara yang Tidak Pernah Reda
Gedung Beringin berdiri kokoh meski sudah lama ditinggalkan. Jendela-jendelanya pecah, cat dindingnya mengelupas, dan akar-akar beringin merambat di setiap sudut. Saat aku tiba, lampu-lampu jalan di sekitar padam.
Suara gesekan ranting dan desir angin seolah mempermainkan nyaliku.
Setiap langkah menaiki tangga gedung membuatku semakin yakin, ada sesuatu yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Lantai 3 sunyi, tapi terkadang terdengar langkah kaki samar yang seolah meniruku.
Aku berhenti di depan pintu ruang 305, menaruh kantong plastik berisi makanan, kemudian menunggu seperti biasa. Selalu ada aroma aneh di udaracampuran bau lembab dan sesuatu yang busuk.
Pesanan yang Tak Pernah Diterima Siapa-siapa
- Tak pernah ada siapapun yang membuka pintu saat aku mengantar pesanan.
- Setiap pagi, makanan yang kuletakkan di sana selalu lenyap, meninggalkan hanya sisa noda minyak di lantai berdebu.
- Order datang dari akun anonim tanpa foto profil, dengan saldo pembayaran selalu cukup.
Pernah sekali aku mencoba mengetuk pintu, sekadar memastikan semuanya baik-baik saja. Tapi sebelum tanganku menyentuh kayu tua itu, lonceng kecil di dalam ruangan tiba-tiba berbunyi sendirinyaring, memantul di lorong hampa.
Aku mundur, ngeri, dan lari menuruni tangga tanpa menoleh lagi.
Dialog Bayangan dan Keberanian yang Mulai Luntur
Suatu malam, aku memutuskan untuk menunggu lebih lama setelah mengantar pesanan. Aku sembunyi di balik pilar, berharap bisa melihat siapa yang mengambil makanan itu. Detik-detik berlalu, hening. Tiba-tiba, suara pintu berderit perlahan.
Dari celahnya, muncul tangan pucat, kurus, dengan kuku-kuku hitam mencengkeram kantong plastik.
“Terima kasih...” bisik suara lirih dari balik pintu. Suara itu dingin, serak, seperti datang dari tenggorokan yang lama tak digunakan. Aku menahan napas, bulu kudukku meremang. Tak ada wajah, hanya bayangan samar di balik cahaya remang.
Esok harinya, aku mencoba menanyakan pada satpam yang berjaga di pos depanPak Slamet, lelaki tua yang katanya sudah puluhan tahun menjaga gedung itu.
“Ruang 305? Sudah lama kosong, Mas. Sejak kebakaran dulu, tak ada yang berani masuk ke sana...” Jawabnya lirih, menatapku dengan mata penuh rasa iba. “Kalau kamu sering dapat order dari sana, lebih baik berhenti. Jangan dilanjutkan.”
Jejak yang Tak Pernah Hilang
Rasa penasaran bercampur takut membuatku semakin gelisah. Tapi setiap malam, order itu terus datang. Setiap aku menolak, aplikasi error. Setiap aku mengantar, suara lonceng itu terus membayangiku, bahkan saat sudah jauh dari gedung.
Kadang, aku merasa ada yang mengikutiku di kaca spion motorbayangan pucat yang samar-samar menempel di belakang.
Sampai suatu malam, ketika aku membuka aplikasi, pesan pribadi masuk dari akun pengorder: “Jangan berhenti, atau ganti kamu yang menunggu di ruang 305.” Tangan gemetar, dada sesak.
Aku menatap layar, dan seolah untuk pertama kalinya, aku melihat pantulan wajah asing di ponselkupucat, dengan mata kosong menatap balik padaku.
Sejak malam itu, aku tak pernah benar-benar sendirian. Setiap dering notifikasi, setiap suara lonceng... seolah menunggu kapan aku akhirnya berhenti mengantar dan menjadi bagian dari kisah Gedung Beringin yang tak pernah selesai diceritakan.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0