Pengakuan Mengerikan Kakekku di Sel Mati Membuka Rahasia Kelam

Oleh VOXBLICK

Sabtu, 17 Januari 2026 - 01.00 WIB
Pengakuan Mengerikan Kakekku di Sel Mati Membuka Rahasia Kelam
Pengakuan menyeramkan di sel mati (Foto oleh Josh Hild)
<>

VOXBLICK.COM - Musim panas 1999 masih membekas dalam ingatanku seperti luka yang tak kunjung sembuh. Malam itu, suara sirine dari kejauhan seolah menandai dimulainya sebuah babak baru dalam hidupkubabak yang dipenuhi kengerian dan rahasia kelam yang tak pernah kubayangkan akan kudengar dari mulut kakekku sendiri, di sebuah sel mati yang pengap dan suram.

Aku ingat jelas, setiap langkah kakiku menuju sel itu terasa berat. Bau besi tua, keringat, dan sesuatu yang lebih gelap menyengat hidungku. Petugas penjara mengantarku, menatapku dengan tatapan kosong seolah tahu apa yang akan menimpaku.

Saat pintu besi berat itu terbuka, aku melihat kakek duduk membelakangi cahaya lampu, tubuhnya kurus, matanya cekung menatap ke luar jeruji.

Pengakuan Mengerikan Kakekku di Sel Mati Membuka Rahasia Kelam
Pengakuan Mengerikan Kakekku di Sel Mati Membuka Rahasia Kelam (Foto oleh cottonbro studio)

“Duduklah, Nak,” suara kakek parau, nyaris seperti bisikan. Aku menuruti, tangan gemetar, jantung berdebar tak menentu. Tak ada lagi sisa kehangatan keluarga dalam sorot matanya. Hanya dingin, dan sesuatu yang menunggu untuk dilepaskan.

Suara Dari Lorong Gelap

“Apa kau pernah mendengar suara-suara aneh saat malam?” tanya kakek tiba-tiba. Aku menggeleng, walau sebenarnya pernah, tapi aku selalu menganggap itu suara angin atau tikus di loteng.

Kakek tertawa pelan, suara tawanya menggema di dinding-dinding batu sel, membuat bulu kudukku meremang.

“Suara itu selalu datang sebelum sesuatu yang buruk terjadi,” lanjutnya pelan. “Dulu, aku juga tidak percaya. Sampai akhirnya aku melihat sendiri apa yang bersembunyi di balik gelapnya malam. Aku...

aku telah melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan.”

  • Setiap malam Jumat, kakek berkata ia mendengar bisikan-bisikan dari lorong penjara.
  • Bisikan itu memanggil namanya, menyuruhnya mengingat masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
  • Kakek mengaku, bisikan itu bukan suara manusiatetapi suara yang ia kenal sejak kecil, suara ibu kandungnya yang sudah lama meninggal.

Aku merasa tubuhku kaku mendengar pengakuan itu. Kakek menunduk, tangan tuanya gemetar, bibirnya bergetar seolah menahan tangis. “Aku bukan hanya membunuh satu orang, Nak. Ada lebih banyak...

mereka semua datang setiap malam, menuntut balas di dalam mimpi dan di balik bayangan.”

Pintu yang Tak Pernah Tertutup

Malam semakin larut, dan suara ketukan samar terdengar dari lorong penjara. Entah siapa, entah apa. Kakek menoleh tajam ke arah pintu, matanya membelalak. “Itu mereka, Nak. Mereka datang untuk menjemputku. Aku tahu waktuku tidak lama lagi.

Aku mulai merasakan hawa dingin merayap di antara sela-sela jari, dan bulu kudukku berdiri. Kakek meraih tanganku erat, kuku-kukunya menancap di kulitku.

“Jangan pernah tidur dengan pintu kamar terbuka, jangan pernah menoleh saat kau mendengar namamu dipanggil dari lorong gelap.”

  • Setiap narapidana yang menempati sel kakekku setelahnya, dikabarkan selalu mendengar suara tangis dan teriakan di tengah malam.
  • Beberapa bahkan mengaku melihat bayangan hitam duduk di sudut ruangan, menatap mereka tanpa berkedip.

Aku ingin lari, ingin berteriak, tapi langkahku seperti terpasung. Kakek menatapku dengan mata kosong, lalu tiba-tiba tersenyum aneh. “Rahasia keluargamu tak akan pernah padam, Nak. Kau akan mengingat malam ini selamanya.”

Rahasia Yang Tidak Pernah Terungkap Sepenuhnya

Pagi harinya, aku mendapat kabar bahwa kakek telah ditemukan tak bernyawa. Wajahnya membeku dalam ekspresi ketakutan, matanya terbuka lebar seolah menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya ia lihat.

Sejak hari itu, aku selalu dihantui oleh suara-suara dari lorong gelapbisikan, tangisan, kadang tawa lirih yang tak jelas asalnya.

Rumahku kini terasa lebih dingin. Setiap malam Jumat, aku mendengar suara langkah kaki di lorong, dan kadang-kadang, samar-samar, suara seseorang memanggil namaku dari balik pintu yang tak pernah benar-benar tertutup.

Mungkin, pada akhirnya, rahasia kelam keluarga kami memang ditakdirkan untuk tetap hidupmengendap-endap di antara bayangan, menunggu giliran untuk kembali mengungkapkan kengerian yang seharusnya tetap terkubur.

Atau, mungkin saja, aku hanya menunggu waktu sampai suara itu memanggilku, seperti dulu memanggil kakek di sel mati.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0