Saudaraku Pulang dari Appalachian, Tapi Bukan Dia yang Kembali

Oleh VOXBLICK

Senin, 12 Januari 2026 - 00.45 WIB
Saudaraku Pulang dari Appalachian, Tapi Bukan Dia yang Kembali
Saudaraku kembali yang berubah (Foto oleh cottonbro studio)

VOXBLICK.COM - Aku selalu percaya bahwa aku mengenal saudaraku lebih dari siapa pun di dunia ini. Namun, malam itu, ketika ia pulang dari pendakian panjangnya di Appalachian Trail, sebuah keraguan perlahan menyelinap ke dalam pikiranku. Ada sesuatu yang berubah dari dirinya, sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan dengan kata-kata. Namun, seiring malam-malam berlalu, kecurigaan itu berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Tanda-Tanda yang Tak Terjelaskan

Aku menunggu di teras, lampu gantung berayun pelan diterpa angin pegunungan yang dingin. Ketika mobil tua itu berhenti dan dia melangkah keluar, aku hampir tak mengenalinya.

Tubuhnya tampak lebih kurus, matanya cekung, dan kulitnya pucat seperti tertutup kabut tipis. Tapi bukan hanya penampilannya yang aneh. Cara ia tersenyum... seperti seseorang yang baru belajar meniru manusia.

Dia memelukku, tapi pelukannya terasa asingterlalu erat, terlalu lama. Saat kami masuk ke dalam rumah, aku berusaha bertanya tentang perjalanannya. Ia hanya menatapku, lalu menjawab dengan suara serak, "Hutan itu... indah sekali.

Tapi ada sesuatu di sana yang tak ingin pergi."

Saudaraku Pulang dari Appalachian, Tapi Bukan Dia yang Kembali
Saudaraku Pulang dari Appalachian, Tapi Bukan Dia yang Kembali (Foto oleh Rachel Claire)

Jawaban itu terngiang di kepalaku sepanjang malam. Aku mulai memperhatikan kebiasaannya yang berubah: ia makan dengan tangan kiri, padahal seumur hidupnya kidal bukanlah bagian dari dirinya.

Ia tidur larut malam, berdiri diam di depan jendela menatap gelap, seolah menunggu sesuatu dari balik pepohonan.

Malam yang Mengubah Segalanya

Pada malam ketiga, suara aneh membangunkanku. Aku mendengar sesuatu berbisik dari kamar saudaraku, suara rendah dan bergetar, seperti dua suara yang bercampur menjadi satu. Aku mengendap ke depan pintunya dan mendengar ia berbicara sendiri.

  • "Jangan biarkan mereka tahu."
  • "Tubuh ini... hangat, nyaman."
  • "Mereka curiga. Harus pergi sebelum fajar."

Jantungku berdegup kencang. Aku menekan daun pintu, berharap semuanya hanya mimpi buruk. Tapi saat pintu terbuka, aku melihat saudaraku berdiri membelakangiku, bahunya bergerak anehseperti ada yang menggeliat di bawah kulitnya.

Ia menoleh, matanya hitam pekat tanpa cahaya, dan mulutnya tersenyum terlalu lebar.

Bayangan di Balik Cahaya

Keesokan harinya, ia bertingkah seperti biasa, seolah malam sebelumnya tak pernah terjadi. Tapi aku tahu, ada sesuatu yang salah. Aku menemukan jejak kaki berlumpur di luar jendela kamarnya, mengarah ke hutan.

Di bawah ranjangnya, aku menemukan seikat ranting kecil yang diikat dengan rambut hitam. Aroma hutan lembap menempel di dalam rumah kami.

Setiap malam, suara-suara itu kembali. Kadang, aku mendengar suara tawa aneh dari kamar mandi, kadang suara langkah kaki di loteng. Ibuku mulai mengeluh sering bermimpi buruk ayahku merasa ada yang mengawasi dari balik jendela.

Tapi hanya aku yang tahusaudaraku pulang dari Appalachian, tapi bukan dia yang kembali.

Apakah Ia Masih Manusia?

Aku mulai mencari petunjuk, membuka album foto lama, membandingkan senyumannya dulu dan sekarang. Ada detail kecil yang selalu berubahbentuk telinga, kerutan di sudut matanya, bahkan cara ia memanggil namaku.

Ia kini sering membawa pulang benda-benda aneh dari luar: batu yang terasa hangat meski malam membeku, daun kering yang tak pernah gugur di musim apa pun.

Suatu malam, aku memutuskan mengikuti dia diam-diam. Ia berjalan ke hutan, tanpa alas kaki, dengan langkah pasti. Aku melihatnya berhenti di tengah kabut, mengangkat tangan seolah menyapa sesuatu yang tak terlihat.

Dari balik kegelapan, suara-suara sumbang membalas, dan aku melihat sosok-sosok bergerak di antara pepohonan.

  • Mataku menangkap bayangan samar menyerupai wajah manusia, tapi tubuh mereka memanjang dan menggeliat seperti akar pohon.
  • Salah satu dari mereka menyentuh bahu saudaraku, dan ia tersenyum tanpa ekspresi.
  • Hutan mendadak sunyi, hanya suara jantungku yang menggema di telinga.

Malam Terakhir di Rumah

Sejak malam itu, aku tak pernah benar-benar tidur. Aku menungguentah apa yang kutunggu. Pada suatu dini hari, aku terbangun karena suara pintu depan yang terbuka perlahan.

Aku berlari ke luar, dan melihat saudaraku berdiri di ambang pintu, menatapku dengan sorot mata kosong.

"Kau ingin ikut?" bisiknya, suaranya bukan lagi milik manusia. Di belakangnya, kabut tebal merayap masuk, membawa aroma tanah basah dan suara-suara tak dikenal.

Tiba-tiba, lampu rumah padam. Dalam kegelapan, aku hanya bisa mendengar napasnyaatau napas sesuatu yang memakai tubuh saudaraku.

Sampai hari ini, aku masih menunggu di teras, menatap jalan setapak menuju hutan Appalachian. Tapi aku tak yakin, jika suatu hari ia kembali, apakah itu benar-benar saudaraku... atau hanya sesuatu yang memakai wajahnya.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0