Aku Melanggar Protokol Sekali Suasana Malam Itu Berubah Mencekam

Oleh VOXBLICK

Senin, 10 November 2025 - 00.30 WIB
Aku Melanggar Protokol Sekali Suasana Malam Itu Berubah Mencekam
Melanggar protokol malam mencekam (Foto oleh Aleks Magnusson)

VOXBLICK.COM - Jam dinding di ruang jaga sudah menunjukkan hampir tengah malam ketika aku memutuskan keluar. Sepi benar-benar menelanjangi lorong-lorong rumah sakit malam itu. Semua rekan sudah mengingatkan, “Jangan pernah melanggar protokol shift malam, terutama yang satu itu. Apapun alasannya, jangan pergi ke ruang rawat lama di lantai empat.” Tapi aku, dengan sisa logika yang mulai terkikis kantuk, merasa itu hanya cerita lama untuk menakut-nakuti perawat baru. Rasa ingin tahu menumpas nalarku. Aku melangkah diam-diam, menekan kartu akses yang hanya boleh kugunakan untuk zona yang diizinkan. Tapi malam itu, aku melanggar satu aturanprotokol yang katanya, tak boleh sekalipun dilanggar.

Udara dingin menusuk, lorong-lorong tampak lebih panjang dan asing. Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, menambah kesan kelam di setiap sudut yang kulewati. Aku terus berjalan, menahan napas ketika lantai berderit di bawah kakiku.

Suara monitor jantung dan alat-alat medis yang biasanya mengisi keheningan, kini seperti lenyap ditelan gelap. Hanya detak jantungku yang berdentam keras di telinga.

Aku Melanggar Protokol Sekali Suasana Malam Itu Berubah Mencekam
Aku Melanggar Protokol Sekali Suasana Malam Itu Berubah Mencekam (Foto oleh MART PRODUCTION)

Lantai Empat: Zona Terlarang

Pintu ke lantai empat mengerang ketika kubuka. Bau lembab langsung menyergap, dinding-dindingnya dipenuhi noda hitam dan cat yang terkelupas. Ada sesuatu dalam keheningan di sana, seperti ruang itu menunggu seseorangatau sesuatu.

Aku menyalakan senter ponsel, membiarkan cahaya tipisnya menari di antara bayang-bayang. Jantungku berdegup lebih kencang, tapi aku terus maju, menantang ketakutan yang mulai menggerogoti pikiranku.

Di antara deretan kamar kosong, aku melihat sebuah pintu terbuka sedikit. Rasa penasaran memaksaku mendekat. Di depan pintu itu, angin dingin seperti keluar dari balik celahpadahal, tidak ada jendela terbuka.

Aku mengintip ke dalam, dan sekelebat bayangan melintas di sudut ruangan. Suara bisikan lirih menyeruak, pelan namun jelas, memanggil namaku. Aku membeku. Rasanya seperti ribuan mata menatapku dari kegelapan.

Ketika Suasana Berubah Mencekam

  • Cahaya lampu di lorong tiba-tiba padam satu per satu, seolah ada yang sengaja mematikan.
  • Suara langkah kaki samar terdengar mendekat, bergema di lantai yang dingin.
  • Telepon di ruang perawat tua berdering nyaring, padahal kabelnya sudah tercabut sejak lama.

Aku mundur perlahan, menahan napas. Suara bisikan itu berubah menjadi erangan, lalu tawa kecil yang mengerikan. Lantai empat tidak hanya sepiia terasa hidup, dipenuhi sesuatu yang tak kasatmata.

Aku berbalik hendak berlari, namun kakiku berat, seolah ada yang menahan. Bayangan gelap di ujung lorong perlahan mendekat, bentuknya tak jelas, tapi kehadirannya nyata. Aku memejamkan mata, berharap semua itu hanya halusinasi.

Rasa Bersalah dan Ketakutan yang Menjelma Nyata

Dalam kekacauan pikiran, aku ingat satu nasihat senior: “Jika kau sudah terlanjur masuk, jangan pernah menoleh ke belakang sebelum keluar dari lantai itu.” Aku paksakan diriku untuk tetap berjalan lurus, menahan dorongan kuat untuk menoleh.

Tapi suara langkah di belakangku semakin jelas, napas dingin terasa di tengkukku. Dalam diam, aku menangis, menyesali keputusanku yang sembrono.

Setiap detik terasa seperti jam. Aku akhirnya mencapai tangga, menggenggam pegangan sekuat tenaga. Namun, sebelum aku menuruni anak tangga pertama, suara bisikan itu kembali terdengar, kali ini sangat dekat di telingaku, “Jangan lupakan kami...

” Aku berlari turun, tak peduli suara kakiku menggetarkan seluruh bangunan tua itu.

Malam yang Tak Pernah Sama Lagi

Sejak malam itu, suasana rumah sakit tak pernah sama di mataku. Aku tak pernah lagi berani menoleh ke arah lorong lantai empat, bahkan di siang hari.

Teman-teman bilang, mataku sering kosong memandang ke satu titik, dan aku jadi sering mengigau menyebut nama-nama yang bahkan tak kukenal. Setiap malam, bayangan itu datang dalam mimpi, mengingatkan bahwa aku pernah melanggar protokol sekalidan sejak itu, aku selalu merasa ada yang mengikuti, di antara gelap dan sunyi. Sampai hari ini, aku masih belum tahu... apakah aku benar-benar berhasil keluar dari lantai empat malam itu, atau ada sesuatu yang ikut bersamaku, bersembunyi di balik setiap bayangan.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0