Kursi Tua di Sudut Ruangan yang Tak Ingin Diduduki
VOXBLICK.COM - Malam itu, hujan turun tipis di luar jendela, menambah sunyi yang menempel erat di dinding-dinding rumah peninggalan kakekku. Aku baru tiba dari perjalanan jauh, tubuh lelah dan pikiranku ingin segera beristirahat. Namun, sejak masuk ke ruang tamu, mataku tak bisa lepas dari kursi tua di sudut ruangan. Kursi itu, dengan ukiran kayu yang mulai retak dan jok lusuh yang warnanya telah memudar, seolah menatap balik padaku.
Ada aura aneh yang menyelubungi kursi itu, seakan-akan ia menuntut perhatian lebih. Setiap kali aku melirik ke arah lain, entah mengapa sudut mataku tetap menangkap keberadaannya.
Aku berusaha menepis perasaan tak nyaman itulagipula, hanya kursi tua, pikirku. Tapi, malam semakin larut, dan suasana rumah begitu lengang. Angin malam menerobos lewat celah jendela, membawa aroma kayu tua dan sesuatu yang tak kukenal.
Bisikan dari Sudut Gelap
Pukul dua dini hari. Aku terbangun karena suara berbisikpelan, hampir seperti desahan. Awalnya, aku mengira itu suara hujan. Tapi kemudian aku sadar, bisikan itu berasal dari sudut ruangan, tepat dari arah kursi tua itu.
Aku menegakkan badan, berusaha menangkap kata-kata yang samar. Kata-kata itu tak jelas, seperti doa yang diputarbalikkan, mengalir lirih menembus dinginnya malam.
- Bulu kudukku meremang.
- Jantungku berdetak lebih cepat.
- Aku merasakan udara di sekitar mendadak lebih berat, seolah ada yang mengawasi.
Tangan kurus seakan menggapai dari bayang-bayang, atau mungkin itu hanya bayangan daun yang menari di balik tirai. Namun, mataku terpaku pada kursi tua itu.
Kaki-kakinya yang bengkok, sandaran punggung yang hampir patah, danaku yakinada noda gelap yang tak pernah bisa hilang dari dudukannya.
Misteri yang Membekukan
Beberapa kali aku mendengar suara seperti kursi yang bergeser, padahal tak ada yang menyentuhnya. Aku mencoba memejamkan mata, berharap itu hanya ilusi akibat kelelahan. Namun, suara bisikan itu semakin jelas, seolah memanggil namaku.
Perlahan, aku melihat bayangan samar duduk di kursi itubayangan tanpa rupa, gelap, dan dingin. Ia menoleh padaku, meski tanpa wajah.
"Duduklah," suara itu akhirnya terdengar di kepalaku. Bukan suara manusia, tapi sesuatu yang lebih dalam, menggema dari balik dinding dan lantai kayu yang berderit. Aku terpaku, tubuhku membeku di atas ranjang.
Ingin berteriak, namun mulutku terkunci, suara tercekat di tenggorokan.
Rahasia Kursi Tua di Sudut Ruangan
Sepanjang malam aku hanya bisa berbaring, menatap kursi tua yang tak ingin diduduki itu. Setiap denting jam dinding seolah menambah beban di dadaku. Pagi pun tiba, tapi rasa dingin dan perasaan diawasi tak juga hilang.
Aku menemukan jejak debu yang berubah pola di sekitar kaki kursi, seolah memang ada yang baru saja duduk di sana semalam.
Beberapa hal yang masih terngiang di kepalaku:
- Siapa yang berbisik dari sudut ruangan itu?
- Bayangan siapa yang kulihat duduk di kursi tua tersebut?
- Apa rahasia gelap yang disembunyikan oleh kursi tua itu di sudut ruangan?
Hari-hari berlalu, namun aku tak pernah lagi berani mendekat, apalagi duduk di kursi tua itu. Setiap malam, suara bisikan itu terkadang kembali, semakin mendesak, memanggil-manggil dalam kegelapan.
Aku bahkan mulai melihat kursi itu sedikit bergeser dari posisi semula, padahal tak seorang pun yang menyentuhnya.
Dan malam ini, ketika aku menulis cerita ini, terdengar suara kursi tua itu kembali bergeser. Lampu kamar tiba-tiba redup, dan udara di sekitarku berubah dingin. Dari sudut mataku, aku melihat bayangan samar kembali duduk di kursi tua.
Kali ini, ia menoleh lebih jelas, dan aku mendengar bisikan yang jauh lebih dekat: "Temani aku... duduklah di sini."
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0