Malam Saat Aku Melawan Sosok Topi Hitam yang Mengerikan

Oleh VOXBLICK

Kamis, 11 Desember 2025 - 01.20 WIB
Malam Saat Aku Melawan Sosok Topi Hitam yang Mengerikan
Melawan sosok Topi Hitam (Foto oleh cottonbro studio)

VOXBLICK.COM - Langit malam itu tampak lebih kelam dari biasanya, seolah bulan enggan menampakkan diri. Angin berhembus malas, membawa bisikan-bisikan samar dari pepohonan di pekarangan rumah tua kami. Aku baru saja selesai menyelesaikan tugas kuliah, ketika tiba-tiba suara ketukan pelan terdengar dari jendela kamarku di lantai dua. Awalnya aku mengira itu ranting yang tertiup angin. Namun, ketukan itu terdengar teraturtiga kali, kemudian senyap, lalu tiga kali lagi. Jantungku berdegup lebih cepat. Saat aku memberanikan diri menengok ke luar, tak ada apa-apa selain pekatnya malam.

Kupaksakan diri untuk tidak terlalu memikirkan suara itu. Tapi tak lama, listrik di rumah mendadak padam, meninggalkan lorong-lorong gelap yang seolah menelan setiap sudut rumah. Aku meraba-raba mencari senter di laci meja.

Saat itulah, aku mendengar suara langkah kaki berat dari arah ruang tamu. Suara itu begitu jelas, menandakan seseorangatau sesuatusedang melangkah perlahan menuju tangga. Aku menahan napas, menajamkan telinga. Ada suara gesekan kain kasar di lantai, diselingi nafas berat yang dalam. Aku tahu, aku tidak sendirian malam itu.

Malam Saat Aku Melawan Sosok Topi Hitam yang Mengerikan
Malam Saat Aku Melawan Sosok Topi Hitam yang Mengerikan (Foto oleh Денис Нагайцев)

Bayangan Topi Hitam di Tengah Kegelapan

Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Sosok tinggi besar berdiri di ujung lorong, mengenakan mantel panjang yang lusuh dan topi hitam lebar yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

Matanyaatau apapun yang ada di balik bayangan topi itumemancarkan tatapan kosong, menusuk hingga ke tulang. Ia berdiri diam, seakan tahu aku memperhatikannya. Nafasku tercekat, namun aku tak berani bergerak sedikit pun.

Lalu, ia mulai berjalan perlahan ke arah kamarku. Setiap langkahnya bergema di antara keheningan. Aku tak tahu harus berbuat apa, kecuali memeluk senter di genggamanku.

Ketika sosok Topi Hitam itu berhenti tepat di depan pintu, aku bisa mencium aroma tanah basah dan sesuatu yang berkarat. Tangannya yang panjang dan kurus terangkat, menggapai gagang pintu. Aku menahan teriakan, tubuhku membeku di tempat. Dalam sekejap, pintu kamar terdorong perlahan, dan sosok itu melangkah masuk, memenuhi ruangan dengan aura dingin yang menusuk.

Pertarungan di Tengah Teror

Ketakutan berubah menjadi naluri bertahan hidup. Aku menyorotkan cahaya senter ke wajah sosok Topi Hitam. Tidak ada wajah, hanya kehampaan gelap yang menyerap cahaya. Dari balik kegelapan itu, terdengar suara berbisik, lirih namun jelas:

  • "Kau mengambil sesuatu milikku..."
  • "Kembalikan, atau kau akan menjadi milikku selamanya."

Aku mundur, mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. Tangan gemetar meraih payung di sudut kamar. Dengan seluruh keberanian yang tersisa, aku mengayunkan payung itu ke arah sosok tersebut.

Payung menembus tubuhnya tanpa perlawanan seolah-olah aku hanya menebas udara kosong. Namun, sosok Topi Hitam tetap mendekat, kini dengan tangan yang mulai menembus permukaan kulitkudingin, basah, dan seperti menancap hingga ke tulang.

Aku meronta, berteriak, dan tiba-tiba lampu menyala kembali. Dalam sekejap, sosok itu menghilang, meninggalkan bau besi berkarat dan udara yang membeku. Aku terduduk di lantai, tubuh lemas, jantung berdegup tidak karuan.

Namun, di lengan kiriku, tertinggal bekas genggaman dinginmemar kehitaman yang tidak kunjung hilang.

Akhir yang Menggantung di Malam Topi Hitam

Sejak malam itu, aku tak pernah berani tidur dengan lampu mati. Setiap bayangan gelap menjadi pengingat akan sosok Topi Hitam yang pernah mendatangiku.

Kadang, ketika malam terlalu sunyi dan angin berbisik lembut di jendela, aku masih mendengar suara ketukan itutiga kali, lalu senyap, lalu tiga kali lagi.

  • Kini, aku sering merasa dia mengawasiku dari sudut-sudut ruangan.
  • Memar kehitaman di lenganku tak pernah benar-benar pudar.
  • Dan setiap malam, aku menahan nafastakut suatu saat, sosok Topi Hitam akan kembali, menuntut apa yang belum pernah aku sadari telah kuambil darinya.

Lampu kamarku tiba-tiba berkedip, dan di kaca jendela, aku melihat pantulan topi hitam itu... berdiri tepat di belakangku.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0