Teman Kecilku Makan Silika Gel Kini Wajahnya Menjadi Mengerikan

Oleh VOXBLICK

Kamis, 15 Januari 2026 - 04.30 WIB
Teman Kecilku Makan Silika Gel Kini Wajahnya Menjadi Mengerikan
Teman kecil berubah menyeramkan (Foto oleh Lennart Wittstock)

VOXBLICK.COM - Udara malam terasa lebih berat dari biasanya. Hujan tipis mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku, dan setiap bayangan yang menari di dinding terasa seperti mengawasiku. Aku tahu, aku seharusnya sudah terbiasa dengan kegelapan. Namun, sejak wajah Dito berubah, malam-malamku tak pernah sama lagi.

Masa Kecil yang Tak Biasa

Dito adalah teman kecilku. Kami tumbuh bersama di gang sempit pinggiran kota. Ia selalu punya tingkah laku aneh, mulai dari memungut benda-benda bekas di tanah hingga mengumpulkan kertas pembungkus makanan.

Tapi aku tak keberatan, lagipula, siapa lagi yang bisa menemaniku bermain petak umpet hingga larut sore?

Suatu sore, aku melihatnya duduk di bawah pohon mangga, menatap sesuatu di tangannya. Ia tersenyum padaku, matanya berbinar, lalu berkata, "Lihat, aku dapat permen kecil! Bentuknya lucu, seperti butiran garam.

" Aku menatapnya, dan baru sadar: itu adalah silika gelkantong kecil yang biasanya ditemukan di dalam sepatu atau tas baru.

Teman Kecilku Makan Silika Gel Kini Wajahnya Menjadi Mengerikan
Teman Kecilku Makan Silika Gel Kini Wajahnya Menjadi Mengerikan (Foto oleh David Kouakou)

Perubahan yang Tak Terduga

Dito tertawa saat aku berteriak panik melarangnya memakan silika gel itu. Namun ia tetap melakukannya, menantangku dengan tatapan iseng. "Bukan racun kok," katanya, "hanya butiran kecil yang kering." Setelah hari itu, Dito mulai berubah.

Ia jarang bicara, lebih sering mengurung diri di rumah, dan ketika kami bertemu, aku hampir tak mengenalinya lagi.

Wajahnya menjadi aneh. Kulitnya pucat seperti malam, matanya cekung, dan bibirnya tampak mengering. Ada sesuatu di balik sorot matanya yang membuat bulu kudukku berdiri.

Teman-teman lain mulai menjauhinya, bahkan orang tua Dito pun terlihat cemas, meski mereka tak pernah mau membicarakannya denganku.

Bayangan di Balik Jendela

Malam-malamku tak pernah tenang sejak itu. Setiap aku menutup mata, aku merasa ada yang mengawasiku dari sudut kamar. Pernah suatu malam, aku terbangun dan melihat siluet seseorang di balik jendela.

Bentuknya kurus, kepalanya sedikit miring, dan matanya menatapku dengan tatapan kosong. Rasanya seperti Dito, tapi wajah itu lebih menyeramkan dari apa pun yang pernah kulihat.

  • Wajahnya tampak retak, seperti porselen tua yang hampir pecah.
  • Mulutnya membentuk senyum aneh, terlalu lebar dan tak pernah bergerak.
  • Bola matanya tampak berkilau samar, seolah memantulkan cahaya yang tak ada.

Aku menjerit, namun suara itu hanya menggema di kepalaku sendiri. Ketika aku berani membuka mata kembali, bayangan itu telah menghilang. Tapi setiap malam, aku merasa dia semakin dekat.

Rahasia di Balik Senyuman

Suatu sore, aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah Dito. Pintu kayu itu terbuka sedikit, seperti mengundangku masuk. Di dalam, rumah terasa lebih dingin dan gelap dari biasanya. Aku memanggil nama Dito, namun hanya suara angin yang menjawab.

Aku melihat foto keluarga mereka di dindingfoto lama dengan Dito kecil tersenyum lebar. Namun, di pojok ruangan, aku melihat sosok kurus itu berdiri membelakangiku, bahunya berguncang pelan.

Ketika ia perlahan menoleh, aku melihat wajahnya sepenuhnya. Kulitnya pecah-pecah, matanya menjorok keluar, dan mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan suara serak yang tak manusiawi. Aku mundur, terpeleset, dan pintu tertutup sendiri di belakangku.

Ruangan itu membeku, dan aku sadar, aku tak sendirian lagi.

Ketika Malam Tak Pernah Benar-Benar Berakhir

Sejak hari itu, aku selalu merasa dia mengikutiku. Setiap bayangan di sudut kamar, setiap bisikan di malam harisemuanya mengingatkanku pada wajah mengerikan Dito. Tak ada yang percaya padaku.

Mereka bilang aku hanya berkhayal, bahwa Dito sudah lama pindah bersama keluarganya. Tapi aku tahu, setiap malam, ia masih menatapku dari balik kegelapan, menunggu aku tertidur.

Malam ini, suara langkah kaki itu terdengar lebih dekat. Aku menutup mata rapat-rapat, berharap semuanya hanya mimpi buruk.

Namun, suara itu berhenti tepat di samping tempat tidurkudan aku tahu, besok pagi, seseorang akan menemukan jejak silika gel berserakan di lantai kamarku.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0